4 Alasan Mengapa Sebaiknya Tidak Memberi Uang ke Anak Jalanan – Indorelawan Blog
4 Alasan Mengapa Sebaiknya Tidak Memberi Uang ke Anak Jalanan
March 5, 2018
0

Memberikan uang ke anak jalanan merupakan dilema. Perasaan kasihan dan ingin berbagi bertempur dengan pemikiran bahwa memberi uang berarti mendukung budaya meminta-minta yang akan melanjutkan siklus kemiskinan.

Karena itu, ada banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan sebelum memberi uang. Beberapa di antaranya mungkin dapat kamu jadikan alasan mengapa sebaiknya kamu tidak perlu memberi uang ke mereka. Untuk itu, simak ulasan yang telah dirangkum Indorelawan.

1. Mendorong mereka agar terus menggelandang di jalan

Sumber foto: Kompasiana

Dilansir dari Kompas.com, Ketua Satgas Perlindungan Anak Muhammad Ihsan mengatakan, dengan penghasilan rata-rata Rp200 ribu per hari atau sekira Rp3 juta per bulan, anak-anak jalanan ini tentunya akan terus hidup di jalan dan tidak akan mempunyai masa depan.

Anak-anak jalanan yang terus mendapat apa yang mereka inginkan menjadi semakin betah hidup di jalan, menjadikan jalanan umum sebagai rumah mereka. Kondisi ini tentu semakin menjauhkan mereka dari peningkatan kualitas kehidupan karena mereka merasa nyaman dengan situasi tersebut.

2. Menjauhkan mereka dari pendidikan

Sumber foto: streetchildren.org

Seorang sosiolog bernama Barry Sugarman mengatakan, anak-anak dari kelas pekerja cenderung lebih menginginkan gratifikasi langsung (immediate gratification) daripada gratifikasi jangka panjang (deferred gratification). Dengan banyaknya orang yang memberi uang ke anak-anak jalanan, anak-anak itu mendapatkan gratifikasi langsung yang membuat mereka semakin betah di jalanan.

Mereka lantas enggan bersekolah, dan menganggap sekolah bukan kebutuhan yang menjadikan mereka kaya. Padahal, dengan bersekolah, kualitas hidup mereka di masa yang akan datang dapat membaik (deferred gratification). Menghindari sekolah dan terus mencari uang di jalanan dapat menimbulkan siklus kemiskinan yang terus menerus tanpa adanya perbaikan kualitas hidup.

Dilansir dari Kompas.com, Koordinator Jambore Sahabat Anak XXI Saskia Rosita Indrasari mengatakan, “Anak-anak ini bisa dapat ratusan ribu dalam sehari, which is itu berarti mereka enggak ada alasan dong untuk enggak di jalan dan anak-anak mungkin mikirnya, ‘Ya mendingan gue di jalan dapat duit, daripada gue sekolah’.”

3. Tidak menjadikan mereka semakin kaya, tetapi semakin banyak jumahnya

Sumber foto: streetchildren.org

Kendati berpenghasilan lumayan, kurangnya pengetahuan dan kemampuan mengatur uang membuat hasil kerja mereka menjadi cepat habis. Mereka cenderung melakukan pengeluaran untuk hal-hal yang sifatnya jangka pendek daripada memikirkan keperluan jangka panjang.

Seorang ekonom bernama Tyler Cowen pernah menulis,

“The more you give to beggars, the harder beggars will try. This leads to what economists call ‘rent exhaustion.”

Ia berpendapat, semakin dermawan orang-orang terhadap anak jalanan, semakin banyak pula jumlah anak jalanan yang meminta-minta. Anak-anak jalanan itu tidak akan semakin kaya, hanya jumlahnya saja yang akan terus bertambah.

Per tahun 2013, tercatat sekitar 230.000 anak-anak hidup di jalan, 12.000 di antaranya memenuhi Ibu Kota, dan terdapat 44 titik rawan anak jalanan yang berada di Jakarta. Data sebaran anak jalanan ini diambil dari Kompas.com. Apa kamu yakin ingin menambah jumlah mereka?

4. Daripada memberi uang, kamu bisa #JadiRelawan

Sumber foto: streetchildren.org

Memutuskan rantai kehidupan anak jalanan, menurut Saskia, bisa dimulai melalui sumbernya. Jika orang-orang tak lagi memberi uang ke anak jalanan, mereka akan berpikir bahwa hidup meminta-minta di jalan bukan lagi hal yang menguntungkan untuk dilakukan.

Kendati demikian, ada cara lain yang dapat dilakukan untuk membantu anak jalanan selain memberi uang, yaitu dengan menjadi relawan. Menjadi relawan tidak memerlukan modal yang besar, cukup dengan menjadi sahabat mereka untuk bermain dan berbincang bersama.

Tentu saja, berbaur menjadi mata pelajaran yang perlu dikuasai relawan. Dengan menjadi bagian yang sama, anak-anak jalanan tak akan sungkan dan menutup diri untuk bercerita dan menghapus kesenjangan. Dengan menyertakan diri ke kaum marginal dapat membuka kepekaan terhadap apa yang mereka butuhkan dan apa yang bisa kita berikan.

Nah, jika kalian ingin membantu anak jalanan, lebih baik kalian segera daftar #JadiRelawan, atau menyumbangkan sebagian penghasilan ke organisasi-organisasi yang mempunyai fokus untuk menanggulangi hal tersebut. Berikut adalah contoh organisasi yang bisa mengalokasikan dana sumbangkan dengan lebih bijak dan efektif dalam perbaikan kualitas hidup anak-anak jalanan.

1) Sahabat Anak

Logo Sahabat Anak

Seperti yang tertera pada laman indorelawan.org, Sahabat Anak adalah yayasan nirlaba yang memberikan pendidikan serta memperjuangkan hal-hak anak-anak marjinal dan anak jalanan di Jakarta supaya mereka tidak terus hidup di jalan dan memiliki masa depan. Organisasi ini menaruh perhatian pada anak marginal dengan meluangkan waktu untuk menjadi sahabat mereka dan berbagi kasih sayang.

2) Indonesia Street Children Organization

Logo ISCO Foundation

Melalui pendidikan, Indonesia Street Children Organization (ISCO) berusaha meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak jalanan. Program utama organisasi nirlaba ini di antaranya memberikan beasiswa dan fasilitas pendidikan untuk anak-anak marjinal di Jakarta, Medan, dan Surabaya, mulai dari taman kanak-kanak hingga SMA, dan jika memungkinkan hingga tingkat universitas. Sampai hari ini, ISCO telah membantu hingga 2000 anak berusia 5-17 tahun mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik.

3) Charity of Children Indonesia

Logo Charity of Children Education (CCE)

Berdirinya Charity of Children Education (CCE) sebagai komunitas memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak marginal di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Komunitas ini memiliki fokus di bidang seni dan budaya dalam kegiatannya.

4) Generasi Anak Panah Indonesia Bersinar

Logo Generasi Anak Panah Indonesia Bersinar (GAPIB)

GAPIB merupakan komunitas yang bergerak demi memperjuangkan hak anak-anak marginal di Ibu Kota agar mereka memiliki masa depan. Budi pekerti dan sifat takut akan Tuhan menjadi nilai yang ditanamkan oleh komunitas ini melalui pendekatan dan kasih sayang untuk mereka yang tersisihkan.

5) Yayasan Kampus Diakoneia Modern

Logo Yayasan Kampus Diakoneia Modern

Fokus utama berdirinya yayasan ini adalah untuk memberi keterampilan pada anak-anak marjinal melalui lingkungan yang kreatif dan inovatif agar kelak menjadi anak-anak yang mandiri. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Yayasan Kampus Diakoneia Modern memberi beberapa program seperti rescue, rehabilitasi, parenting, edukasi, dan program magang kerja.

Kamu bisa menemukan organisasi yang membantu anak marginal lainnya di Indorelawan dan daftar janga lupa buat akun #JadiRelawan ya dan buktikan kamu bersedia menjadi sahabat anak-anak marjinal!

Referensi :

https://www.theatlantic.com/business/archive/2011/03/should-you-give-money-to-homeless-people/72820/

http://sahabatanak.org/in/tentang-kami/gerakan-sahabat-anak/233-kampanye-stop-beri-uang-.html

https://indonesiana.tempo.co/read/61931/2016/02/11/pebpebri/pengemis-dan-kota-atlas

https://revisesociology.com/2014/02/15/the-effect-of-cultural-deprivation-on-education/

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/27/0102559/Penghasilan.Anak.Jalanan.Rp.200.Ribu.per.Hari

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/22/15562531/stop-memberi-uang-pada-anak-jalanan-

Dituls oleh Talitha Rucira dan Elva Mustika.

Elva Mustika

Post by Elva Mustika

Mahasiswa Jurnalistik yang gemar bermimpi tetapi tidak pernah lupa bangun tidur.

Website: http://tuminesia.com