Bukan Sekedar Relawan, Tania Hidup Untuk Mendongeng – Indorelawan Blog
Bukan Sekedar Relawan, Tania Hidup Untuk Mendongeng
April 21, 2017
0

Gadis itu bernama Tania Kathryne. Dia seorang full time storyteller di salah satu pembuat dan penerbit buku anak, Rabbit Hole. Mendongengkan buku-buku terbitan Rabbit Hole, menjadi salah satu kegiatan kesehariannya. Sebelum bekerja sebagai pendongeng, ia menjadi relawan pendongeng di beberapa komunitas hingga kini.

“Pekerjaan sekarang ini bermula dari aku menjadi relawan pendongeng untuk beberapa komunitas. Kemudian, ketika kantorku membuka lowongan pekerjaan menjadi pendongeng, aku langsung tertarik melamar. Dari hobi menjadi pekerjaan, senang banget rasanya!”

Di luar pekerjaan sehari-harinya, Tania juga menjadi relawan pendongeng yang mengunjungi sekolah, PAUD, atau komunitas yang mengajukan undangan permohonan untuk didongengkan. Biasanya selain mendongeng, dia mengajak adik-adik untuk menari dan bernyanyi bersama. Tak jarang Tania juga membuat video tutorial cara mendongeng yang menyenangkan. Dia juga kerap menuliskan rekomendasi buku bacaan anak yang menarik dan edukatif. Hal ini ia lakukan agar si anak termotivasi untuk lebih banyak membaca dan mengenal dunia literasi.

“Awalnya saya ingin sekali menjadi dubber. Unik dan seru aja rasanya bisa berganti-ganti suara”.

Semuanya bermula pada 2013 lalu. Ketertarikan Tania untuk menjadi pendongeng bukanlah tanpa sebab. Ketika itu, dia dibuat terpukau oleh aksi para pendongeng dari komunitas Rumah Dongeng Pelangi yang berhasil menghibur ia dan teman-temannya. Ia takjub dengan kemampuan mereka dalam menceritakan sesuatu, memancing gelak tawa, hingga menyulutkan semangat kebahagiaan.

“Jika orang dewasa saja mampu tersihir dengan dongeng, apalagi anak-anak. Lalu, mengetahui banyak kegiatan positif komunitas itu untuk anak-anak, saya pun tertarik untuk bergabung. Jadi saat itulah, saya membulatkan tekad untuk bisa menjadi pendongeng. Karena mendongeng pun bisa menjadi hal yang luar biasa, tidak kalah seru dengan menjadi dubber”, ceritanya.

Bersama Indorelawan, Tania mengajarkan cara mendongeng untuk adik-adik pramuka di Jambore Nasional 2017

Lambat laun setelah aktif menjadi pendongeng, Tania pun tak tinggal diam. Dia kerap berkeliling menjadi relawan pendongeng guna terus menebar kebaikan melalui hobi barunya di beberapa komunitas seperti  Rumah Dongeng Pelangi, Komunitas Taufan, Yayasan Heesu, Taman Baca Innovator, Kelas Inspirasi bahkan juga pernah menjadi mentor untuk relawan pendongeng yang kegiatannya diadakan oleh Indorelawan.

Tidak hanya Jakarta, sebut saja Bantar Gebang, Tangerang, Bogor, Cirebon, Kepulauan Seribu, hingga Wakatobi kerap dikunjunginya. Berbekal boneka jari, Tania dengan santai menyapa anak-anak yang siap menerima alur demi alur sesuatu yang dia ceritakan.

Melihat semua anak bisa tertawa adalah kebahagiaan tertinggi dalam hidupnya. Lelah tidak akrab dengan perempuan ceria seperti Tania, sebab yang ada dibenaknya hanyalah bercerita setulus hati. Yang menjadi sasaran utamanya adalah mereka yang jauh dari kasih sayang orang tua. Mereka yang hidupnya termarjinalkan, mereka yang menjadikan kolong jembatan sebagai tempat mewah dan nyaman untuk ditinggali, bahkan mereka yang berkebutuhan khusus, semua bisa akrab dengan Tania.

Dalam suasana hati yang selalu tergugah, gadis ini selalu menjalani hobi dan profesinya dengan sukacita. Memang sangat sulit rasanya menciptakan suasana kondusif serta membuat semua anak fokus untuk mendengarkan lantunan cerita. Namun, karena berangkat dari niat yang sungguh-sungguh dan rasa kecintaan terhadap sesama, Tania bahkan tak pernah berfikir untuk meninggalkan hobi dan profesinya tersebut.

“Buat saya, setiap moment saat melihat anak-anak itu tertawa dan benar-benar menyimak cerita yang saya bawakan selalu menjadi moment yang membahagiakan”.

Meski awalnya sempat ragu saat bercerita untuk anak-anak berkebutuhan khusus, perlahan Tania mulai menemukan cara untuk menanganinya. Pengalamannya yang tak terlupakan yakni ketika ia mendongeng pertama kalinya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Tania menghibur adik-adik berkebutuhan khusus di Yayasan Heesu

“Awalnya saya ragu dan takut apakah saya mampu bercerita untuk mereka dan apakah akan direspon oleh mereka.  Saya meyakinkan diri bahwa saya bisa membuat mereka tersenyum. Dan memilih cerita sederhana dengan tokoh-tokoh yang lucu serta membuat suara-suara binatang yang menggemaskan. Di luar dugaan, mereka tertawa lepas. Saya melibatkan mereka dalam cerita saya, membiarkan mereka memerankan seekor tokoh hewan dengan boneka yang saya bawa. Bahagia sekali rasanya, ketika mereka benar-benar menikmati ceritanya”.

Dia selalu percaya bahwa semua anak layak mendapatkan kebahagiaan. Hal inilah yang membuatnya kian nyaman menjadi pendongeng hingga saat ini.

“Saya ingin sekali bisa mendongeng dan berbagi kebahagiaan juga untuk adik-adik tuli dan adik-adik tuna netra. Saya masih terus belajar untuk memahami media pendukungnya”, ujar Tania.

Bahkan suatu saat nanti, Tania memiliki mimpi besar untuk menjelajah setiap sudut negeri ini dengan boneka jarinya. Dia sangat berharap agar bisa bercerita bagi setiap anak Indonesia yang hidup di pelosok.

Tania bersama boneka kesayangannya, Imon.

Tania selalu ingin menyebarkan embun kebahagiaan bagi mereka yang jauh dari kemewahan, menabur benih pemahaman bahwa mendongeng dan bercerita sungguh menyenangkan. Menyampaikan berbagai pesan positif kepada seluruh anak negeri.

Pesan Tania untuk perempuan Indonesia di hari Kartini ini,

“Menjadi perempuan Indonesia itu harus bisa menginspirasi. Apapun bidangnya, usahakanlah untuk selalu bisa memberi manfaat sebanyak mungkin. Jangan pernah ragu untuk mengejar passion. Sesulit apapun, “semahal” apapun akan selalu worth it sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri”.

Tania adalah semangat yang terus menyala, memberikan dukungan agar setiap anak bisa tumbuh kokoh dan kelak dahan dan rantingnya akan menjangkau mega-mega. Sukses selalu Tania. Teruslah menyebarkan nafas kebajikan selayaknya para pendahulu bangsa ini. Selamat Hari Kartini!

Imron Fhatoni

Post by Imron Fhatoni

Sebenarnya saya tidak bisa dibilang profesional dalam dunia kepenulisan, sebab saya tidak mempelajari bidang ini melalui pendidikan formal. Saya hanyalah seorang antusias. Dibanding soerang penulis, saya hanyalah mahasiswa yang gemar menulis.