Cerita Kepedulian Luthfi pada Anak Yatim & Pasien Anak – Indorelawan Blog
Cerita Kepedulian Luthfi pada Anak Yatim & Pasien Anak
May 7, 2017
0

Ada banyak cara untuk berbagi kebaikan. Pemicunya tak selalu tentang materi lebih yang kita miliki, namun juga tentang kedalaman hati melihat dunia sekitar. Pelakunya pun kian beragam. Mereka tak selalu berlabel pejabat, milyarder, bahkan politisi. Siapapun bisa melakukannya. Tak jarang mereka yang melakukannya adalah orang-orang biasa yang hatinya tergerak ketika melihat penderitaan orang lain.

Hal ini saya amini ketika mendapati sebuah aktivitas komunitas sosial, Berbagi Bersama Taplak, atau lebih akrab disebut BBT. Sebuah gerakan sosial yang lebih berfokus pada anak ini, lahir sebagai tangan-tangan kebaikan. Mereka eksis sebagai satu suara yang terus bergema tentang kepedulian.

Berbagi Bersama Taplak bermula dari aksi seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia bernama Luthfi. Pengalaman hidup serta kesenangannya terhadap anak-anak membuatnya terdorong untuk menciptakan komunitas ini.

Nama BBT sendiri terinspirasi dari sapaan akrab Luthfi sehari-hari. Taplak, begitu sapaan akrabnya oleh teman-teman dan warga kampus. Berbagi Bersama Taplak adalah akumulasi ide, konsep, dan eksekusi dari dirinya sendiri.

“Waktu itu bingung sih mau bikin nama apa hehe, tercetuslah Berbagi Bersama Taplak karena ini adalah ide, konsep dan eksekusi dari gue pribadi dan gue bisa ngajak orang lain.”

Pada dasarnya, target utama dari gerakan ini adalah anak-anak yatim. Namun seiring perjalanan waktu, semakin meluas ke dunia anak-anak. Luthfi mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang membuatnya lebih berfokus pada dunia anak.

Salah satunya adalah karena ia sangat menyenangi anak-anak. Luthfi  juga beranggapan bahwa cita-cita dan harapan adalah sebuah kemutlakan yang harus ditanamkan oleh setiap orang tua kepada anaknya. Namun menurutnya, hal ini tidak ia temui pada anak yatim, pasien anak dengan penyakit kronis dan anak-anak jalanan yang terlantar di Indonesia.

“Selain mereka lucu, gue melihat bahwa pertumbuhan dan berkembangan suatu anak-anak adalah suatu yang sangat ajaib, natural dan berkah dari Allah. Sehingga tugas kita sebagai manusia adalah bagaimana cara mengoptimalkannya.”

“Gue pernah ketemu anak yang terlantar di pinggir jalan sambil jualan tisu, setelah gue tanya anak itu, ternyata orang tua mereka menitipkan mereka ke om (preman). Gue sangat sedih akan kenyataan hal ini. Apalagi kalau ditanya soal cita-cita, mereka hanya menjawab pekerjaan yang kurang pantas maupun meniru apa yang dilakukan oleh om (preman) tersebut, miris.”

Luthfi menilai bahwa tanggung jawab terhadap anak-anak Indonesia bukanlah terbatas pada lembaga sosial dan negara, melainkan seluruh komponen masyarakat Indonesia pada umumnya. Mereka adalah para generasi penerus bangsa yang sedang merindukan sentuhan kebaikan dari kita semua. Untuk itu, kegiatan BBT selalu menanamkan keyakinan kepada setiap anak bahwa betapa sebuah cita-cita, mimpi, dan harapan sangatlah penting bagi mereka.

Aktivitas pertama BBT di mulai sejak 2016 lalu. Ketika itu, bersama seorang sahabat, Lutfhi melakukan aksi bagi-bagi nasi bungkus di Kota Tua, Jakarta. Meski terkesan sederhana dan seadanya, dia sangat puas atas kegiatannya tersebut.

“Waktu itu gue lagi abis ujian dan ngajak temen deket gue malem malem, “kosong ga? Berbuat baik yuk” dan randomly malam-malem kita ke Kota Tua untuk bagi-bagi nasi bungkus. Alhamdulillah puas banget waktu itu dengan rejeki yang apa adanya dan waktu yang padat, ternyata kita masih bisa untuk berbagi.”

Hingga akhir tahun 2016, BBT telah melaksanakan 10 kegiatan, mulai dari mengunjungi anak-anak di panti hingga ke rumah sakit. Dia sepenuhnya menyadari, bahwa kesibukannya sebagai mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan profesi S-1 Pendidikan Kedokteran atau biasa dikenal sebagai koas, adalah kendala utama dalam melakukan serangkaian kegiatannya bersama BBT. Akan tetapi, ketekunan untuk mengajarkan kebiasaan berbuat baik di lingkungan sekitar, membuat Luthfi tetap bergerak.

Passion, Planning dan Konstan! Passion akan ngebuat ide, kreativitas kita sangat. Planning bertujuan untuk memudahkan kita juga dalam menyiapkan sebuah kegiatan yang matang. Konstan bertujuan untuk mempertahankan tujuan kegiatan yang sudah direncanakan di awal” 

BBT sempat vakum beberapa bulan, namun bukan berarti dia juga berhenti dari aktivitas berbagi yang ia geluti. Pemuda itu ternyata tengah berfokus pada hal lain. Dia aktif memotori lingkungannya untuk melakukan hal serupa. Mengajak orang-orang terdekat untuk sama-sama menggaungkan kepedulian terhadap sesama.

Usahanya pun berbuah manis. Pada Februari lalu, dia berhasil menggerakkan kelompok FKUI lain untuk berbagi bersama dengan pasien-pasien RSCM. Dia juga mengaku senang ketika mendapati adik kelasnya membuat acara serupa dengan BBT.

“Saya turut senang dengan adik kelas saya yang membuat acara serupa BBT dengan metodenya sendiri setelah ia ikut BBT saya beberapa waktu lalu hehe.”

Tahun 2017 ini, BBT ingin fokus untuk berbagi bersama pasien anak yang berada di rumah singgah. Anak-anak yang sedang berobat kemoterapi atau menunggu operasi inilah yang akan BBT kunjungi.

Suatu pengharapan yang selalu bertengger di benaknya adalah, kelak dia bisa membangun sebuah panti asuhan yang nantinya bisa membimbing anak-anak untuk  memiliki mimpi dan semangat juang dalam mewujudkan mimpi mereka. Selain itu, dia juga ingin membuat asuransi buku.

Ide ini terinspirasi dari asuransi sampah yang dicetuskan oleh Dr. Gamal di Surabaya. Konsepnya adalah membuat sebuah buku, yang nantinya dapat diubah menjadi iuran untuk berobat. Sementara buku tersebut bisa di recycle dengan cara dibuat perpustakaan.

Yuk doakan, semoga mimpi Luthfi bisa terwujud ya!

Ditulis oleh Imron Fathoni.

Disunting oleh Marsya Nurmaranti.

Imron Fhatoni

Post by Imron Fhatoni

Sebenarnya saya tidak bisa dibilang profesional dalam dunia kepenulisan, sebab saya tidak mempelajari bidang ini melalui pendidikan formal. Saya hanyalah seorang antusias. Dibanding soerang penulis, saya hanyalah mahasiswa yang gemar menulis.