Daur Bunga: Berbagi Bahagia lewat Bunga Daur Ulang – Indorelawan Blog
Daur Bunga: Berbagi Bahagia lewat Bunga Daur Ulang
February 10, 2017
2

Ada benang merah untuk kita yang semakin menua: banyaknya undangan resepsi pernikahan dari teman terdekat. Mendesak kita lebih kreatif untuk menjawab pertanyaan, “Datang ke undangan terus, kapan kasih undangan?”

Talisa Dwiyani dan Mutia Sekar Hapsari juga kreatif lantaran datang ke pesta pernikahan teman. Awalnya mereka iseng, memetik bunga-bunga sehabis resepsi pernikahan temannya. Mereka rangkai bunga tersebut dan memberikannya kepada teman mereka yang akan melanjutkan studi ke Australia. Si penerima tahu ia menerima bunga “daur ulang”, tapi kebahagiaan yang ia tunjukkan berhasil mendorong Talisa dan Mutia untuk mengulangi “keisengan” mereka. Bahkan, membuat komunitas Daur Bunga pada Oktober 2016.

Resepsi pernikahan adalah tempat pertama untuk melaksanakan ide mereka. Di akhir resepsi, Talisa, Mutia, dan teman-temannya memetik bunga-bunga bekas dekorasi yang masih segar. Bunga-bunga tersebut segera dirangkai dan langsung diberikan kepada kakek–nenek Panti Sosial Tresna Wredha Maraguna Jakarta Selatan, tempat pertama pelaksanaan kegiatan Daur Bunga. “Teman dekat kami saja bisa begitu berbahagia mendapatkan bunga, apalagi orang-orang yang belum pernah mendapatkan bunga seumur hidupnya. Pasien yang dirawat lama di rumah sakit, kakek dan nenek, serta kaum marjinal yang terpinggirkan,” tutur Talisa dan Mutia.

Ketulusan para relawan yang diwujudkan dalam rangkaian bunga.

Tertawa, tatapan bingung, hingga sindiran pedas pernah didapatkan oleh teman-teman relawan di Daur Bunga. “Saat itu kami berdua dibantu beberapa teman yang rela dan bermuka tembok, membantu kami mencabut dan mengambil bunga-bunga. Beberapa tamu yang belum pulang dan teman-teman sendiri banyak yang tertawa dan geleng-geleng kepala karena bingung mau diapakan bunga-bunga tersebut. Lalu kami menjelaskan bahwa sudah direstui oleh pengantin untuk mengambil bunganya guna didonasikan”, ungkap Talisa dan Mutia.

Di awal komunitas ini berdiri, Talisa, Mutia, dan dibantu segelintir kerabat merangkai sendiri 60-70 buket bunga di halaman parkir. Mereka juga pernah diusir oleh penjaga taman karena merangkai di wilayah mereka. Toh, relawan Daur Bunga terus bertambah, kegiatan memberikan bunga sudah empat kali dilakukan, dan semakin banyak orang yang tersentuh karena pemberian bunga mereka.

Salah satunya Kakek Yohanes di Panti Sosial Tresna Wredha Jelambar. Begitu menerima bunga, Kakek Yohanes begitu semangat mencari botol untuk menyimpan bunganya, lalu diletakkan di sebelah tempat tidur. Kakek Yohanes mengambil album foto miliknya dan menceritakan setiap foto yang ia simpan. “Bunga bukan sekadar pemberian, namun menjadi media komunikasi antara relawan dan penerima. Kakek, nenek, adik-adik, hingga pasien, suster, dan dokter. Melalui bunga, kami berusaha mencairkan suasana, menjalin cerita, berbagi keceriaan, serta tawa.”

Album foto Kakek Yohanes. Cerita masa muda yang dibaginya setelah menerima bunga.

Sebuket bunga untuk senyum dan tawa yang sulit terlupakan. Tidakkah mendapatkan bahagia itu begitu sederhana? Ada kenangan masa muda yang dibagi oleh kakek–nenek di panti sosial, ada rasa haru juga yang dibagi dari para pasien kanker RS Dharmais.

“Tak sedikit yang menetaskan air mata baik di pihak relawan maupun di pihak pasien karena sama-sama saling terharu dengan dukungan moral yang diberikan baik dari yang sehat kepada yang sakit serta sebaliknya pula juga untuk semakin menghargai hidup dan mencintai orang-orang di sekitar kita”.

Baik relawan maupun pasien turut merasakan betapa berartinya dukungan moral dalam perjuangan yang mereka hadapi.

Bunga bukan sekadar pemberian tapi pembuka jalan untuk berbagi cerita.

“Mimpi besar kami, semakin banyak pihak yang sadar untuk kembali memikirkan penggunaan dekorasi bunga dari acara yang berlangsung. Karena sampah bunga tersebut ternyata masih memiliki nilai yang begitu berharga di mata orang lain,” tutur Talisa dan Mutia yang telah menjalin persahabatan sejak menjadi mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia. Mereka berharap bisa berbagi kepada para ibu di rumah susun, rumah penampungan, dan tempat kumuh lain. Selain itu kepada para buruh, terutama perempuan, polisi, perawat, dokter atas sumbangsih mereka yang tetap bekerja pada hari-hari besar.

Setelah didonasikan, masih banyak bunga tersisa yang menjadi sumber kreativitas lainnya. Daur Bunga tengah mengusahakan pembuatan pupuk kompos dan pewarna kain dari sisa bunga tersebut. Berikutnya, tak sekadar bunga lagi. Talisa dan Mutia berencana mengumpulkan sisa makanan untuk kembali dimanfaatkan, lewat sebuah gerakan “Daur Pangan”.

Komunitas mereka masih kuncup, belum juga mekar dan dikenal. Namun sudah banyak relawan yang mendaftar pada kegiatan mereka, melebihi kuota yang diharapkan. Mereka meluangkan malam minggu untuk memetik bunga, esoknya kembali berkumpul dan menghabiskan satu hari untuk merangkai dan mendonasikan bunga. “Relawan bagi kami adalah keluarga yang dipertemukan,” Talisa dan Mutia berbagi kebahagiaan selama tiga bulan Daur Bunga berdiri. Setiap testimoni dan ucapan terima kasih semakin menguatkan mereka bahwa ide iseng ini betul-betul dirasakan manfaatnya. Ketulusan para relawan tercermin dari kebahagiaan yang tercermin dari para penerima. “Kebahagian terbesar adalah saat melihat senyum tersungging di wajah penerima bunga yang menjadi tanda awal kami untuk mulai saling bertukar cerita.”

“Relawan adalah keluarga yang dipertemukan.”

Idealisme mereka bukan saja menular ke para relawan, tetapi juga kepada dua jasa dekorasi, yang kini mempresentasikan ide Daur Bunga kepada klien-klien mereka. Sebentar lagi, mungkin akan ada benang merah baru dari setiap undangan pernikahan yang kita terima. Sebuah tulisan sederhana, “Seluruh dekorasi bunga akan dipersembahkan untuk Daur Bunga”.

Vassilisa Agata

Post by Vassilisa Agata

Setiap orang bebas bernarasi. Setiap orang bebas berekspresi. Nafas ini yang saya bawa saat bekerja sebagai jurnalis, editor, dan akhirnya aktif di Gerakan Indonesia Mengajar. Setahun menjadi guru di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, meyakinkan saya bahwa keadilan dapat tercapai jika kelompok minoritas mendapatkan akses terhadap informasi dan kesempatan berbicara. Suka nongkrong berjam-jam di warung kopi, berbicara tentang media dan media sosial, perempuan, ruang publik, atau bermimpi sampai pagi. Apapun ceritamu, saya siap mendengarkan.

  • Zacky Irwandi Soewondo

    I love it 🌹🌹🌹

    • Semangat #JadiRelawan Daur Bunga ya Zacky! 😀