Mencintai Musik Klasik bersama Yayasan Klasikanan – Indorelawan Blog
Mencintai Musik Klasik bersama Yayasan Klasikanan
January 21, 2016
0

Apa yang ada di benak kalian jika kalian mendengar sebuah pertunjukan musik klasik? Apakah terdengar membosankan atau malah menikmatinya?Bertempat di sebuah rumah sederhana yang bertempat di Tanjung Barat Jakarta Selatan, sebuah yayasan yang berdiri untuk membangkitkan kembali kecintaan akan musik klasik dapat kita jumpai. Dibentuk oleh sepasang suami istri pada 2012 silam yang didasari karena konsern dan keprihatinannya akan dunia musik khususnya musik klasik yang masih minim bagi masyarakat Indonesia. Dipilihnya KLASIKANAN sebagai sebuah nama bukanlah sebuah hal yang tidak dipikirkan. Jangan dulu menganggap kenapa tidak Klasikiri, karena Klasikanan mengambil kata “KLASIKA” yang merupakan varian penyebutan simfoni musik klasik dengan menambah imbuhan “-nan” untuk membentuk kata kerja. Sehingga arti kata KLASIKANAN melukiskan bagaimana musik klasik bisa menjadi bagian dari jasad yang aktif, tindakan yang terus menerus, dan senantiasa berdialog. Kenang Condro dan Disti selaku pendiri Yayasan Klasikanan.

Perjalanan sebuah organisasi selama 3 tahun bukanlah sebuah hal mudah menurut mereka. Perjalanan klasikanan selama ini dibantu oleh kurang lebih 20-an relawan yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia namun memiliki minat yang sama untuk saling berbagi cerita dan pengalaman dalam bermusik klasik. Dua puluhan relawan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari klasikanan untuk saling bahu membahu membangun klasikanan sebagai sebuah organisasi. Menurut Disti, ada 3 lubang besar di negara Indonesia yang perlu diperbaiki dalam peningkatan kesadaran musik klasik, yakni 3 pilar seni mulai dari seniman, masyarakat dan sarana prasarana. Mari kita menengok keadaan 3 pilar tersebut saat ini di Indonesia.

Dimulai dari sarana prasarana yang tentu sangat tidak murah untuk menyelenggarakan sebuah pertujukan musik apalagi musik klasik. Menurut Condro, saat ini gedung pertunjukan untuk menyelenggarakan musik klasik sudah jauh berkurang dan aksesnya tidak seterbuka dulu. “Gedung musik klasik dulu yang terkenal ada namanya GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), namun sayang saat ini banyak yang diubah dari GKJ dan menghilangkan nuansa klasik yang sempat tercipta di gedung tersebut.” kenang Condro. “Saat ini yang menurutku bagus itu Aula Simfonia di daerah Kemayoran,” tambah Condro akan Aula Simfonia yang sempat dihidupkan melalui acara paduan suara saat Festival Jerman akhir November lalu.

Elemen kedua yang juga penting ialah senimannya atau dalam dunia musik biasa disebut sebagai musisi. Melihat kondisi musisi musik klasik yang saat ini mulai “berpindah” bukan di jalurnya lagi menjadikan perlu segera organisasi ini bisa dibentuk. Kejayaan masa lalu musisi Indonesia yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia seperti Idris Sardi dan Adi Dharma hanya menjadi masa lalu jika tidak ada sebuah regenerasi musik klasik. Melalui klasikanan ini, kedua pendirinya berharap agar bisa menemukan bibit musisi klasik yang tumbuh beriringan dengan seni musik klasik. “Ya, kita akan memberdayakan musisi yang memang passion untuk diberikan ruang penyaluran kreasinya kepada pasar saat ini,” harap Condro kepada musisi musik klasik.

Terakhir dan merupakan konsern bersama ialah masyarakat. Menurut Disti, masyarakat perlu disadarkan dan dikenalkan apa itu musik klasik. Banyak masyarakat yang masih menganggap kalau musik klasik merupakan jenis musik yang “mahal”. “Musik klasik itu mahal, lah yang main aja pake jas, lah saya harus pake apa dong?” kikik Disti mengingat temannya saat ia minta pendapat musik klasik. Padahal kalau diperhatikan, mahal atau tidaknya suatu pertunjukan didasarkan pada banyak faktor. “Bisa dilihat dari siapa yang main, ditujukan kepada siapa dan lokasi tempat bermainnya di mana,” terang Disti.

Dalam upayanya membangkitkan minat akan musik klasik, klasikanan membuat beberapa program yang sudah dan akan berjalan dalam semangatnya untuk membumikan musik klasik. Salah satunya ialah Kumpul Klasik. Program andalan klasikanan untuk benar benar membumikan musik klasik yang selama ini dianggap mahal oleh sebagian orang. Bermain di ruang publik ialah salah satu cara untuk bisa membumikannya.

“Saat ini, kumpul klasik sudah memasuki episode ke-14 hingga pertengahan November lalu, dan responnya menarik bagi kami untuk meneruskan program ini selanjutnya,” cerita Disti akan program Kumpul Klasiknya. “Kami biasa bermain di CFD (Car Free Day) Sudirman, Jakarta pada Minggu pagi atau ikut nimbrung di Pasar Modern Santa di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan jika mereka ada acara musik di pasar.” timpal Condro akan program mereka. Program lainnya yang akan menarik perhatian publik untuk lebih tertarik musik klasik ialah Klasikanan Goes to School. Menjadi target pasar tersendiri jika siswa/i SMA yang diarahkan untuk dapat mengenali musik klasik. Klasikanan Goes to School (KGTS) tidak menyasar sekolah sekolah yang sudah memiliki peralatan nomor wahid untuk musik klasik namun menyasar sekolah yang belum tahu sama sekali musik klasik.

“Kami ingin memberikan pilihan seni musik klasik yang bisa dipilih, kasian sekali kalau orang tidak pernah tahu ada pilihan akan seni khususnya seni musik klasik,” mantap Condro. Program yang dicobakan pertama kalinya di tahun ini telah mendapat animo yang luar biasa dari murid yang menerima kunjungan Klasikaan ke sekolah mereka. Hal ini terlihat saat Klasikanan menerima survey kunjungan mereka. “Kami sempat sebar survey ke mereka dan kami terkejut bahwa 50% dari mereka jadi ingin mempelajari alat musik klasik dan akan meminta orang tuanya untuk mengenalkan alat musik klasik untuk dipelajari,” kenang Disti akan KGTS di salah satu sekolah atas di Jakarta.

Program yang menjadi harapan mereka selanjutnya ialah melakukan Klasik Kelana. Sesuai namanya, Kelana, memiliki arti berkeliling untuk mengenalkan musik klasik. “Klasik Kelana sudah pernah kami lakukan dengan ikut nimbrung di acara musik yang ada di Bandung dan Jogjakarta,” ingat Condro. “Selanjutnya, kami akan mengembangkan kelana ke daerah yang belum pernah sama sekali tahu apa itu musik klasik,” tambah Condro dengan semangat. Klasik Kelana merupakan program perwujudan akan banyaknya daerah yang bingung bagaimana cara memulai belajar musik klasik. Melihat potensi banyaknya musisi klasik di Indonesia, Disti dan Condro tertantang untuk program ini bisa segera diwujudkan. Namun, sayang untuk tahun 2016 program tersebut belum bisa dilakukan karena menurut mereka tahun 2016 merupakan pijakan mereka untuk merapihkan organisasi mereka terlebih dahulu.

Dengan perbaikan di banyak sisi pada tahun 2016 dapat menjadikan Yayasan Klasikanan dapat menjadi lebih rapih dalam dokumentasi mereka untuk kepentingan seni musik klasik yang lebih baik lagi. Salah satu programnya, ialah membuat sebuah buku rutin dari yayasan klasikanan yang bisa diterbitkan 2 kali dalam setahun. Disti dan Condro mengajak siapa saja untuk bisa berkontribusi melalui tulisan untuk seni musik klasik di Indonesia. Penerbitan buku menjadi suatu hal yang penting karena dengan adanya literatur dari seni klasik, membuat siapa saja bisa mempelajarinya. “Jangan salahkan musisi jika mereka tidak memiliki pemahaman yang lebih luas soal musik klasik karena memang literaturnya yang tidak ada.” kritik Disti.

Terlebih, banyak legenda musik klasik yang sudah mulai menginjak setengah abad lebih dan merupakan usia rawan untuk sebuah kenangan akan kejayaan musik klasik Indonesia di masa lalu. “Kita perlu segera mengambil informasi itu dan melalui buku klasikanan ini bisa menjadi bentuk dari kami kepada musik klasik di Indonesia,” tambah Disti. Yayasan klasikanan yang saat ini telah memiliki 5 divisi dengan 22 relawan ini memiliki harapan bisa merapihkan organisasi mereka selama setahun ke depan dalam upaya mereka untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan. Selain itu, saling mendobrak antar musisi untuk bisa berkenalan antar musisi dan seniman lainnya agar tidak menjadikan seni musik terkungkung dalam dunianya sendiri. “Sudah dalam dunia sendiri tapi juga tersekat sekat antar genre musik yang ada, sehingga seni musik itu perlu usaha ekstra untuk membangunnya,” tutup Disti.

Ditulis oleh Arief Alqori

(Relawan Penulis)

indorelawan

Post by indorelawan

Indorelawan adalah wadah daring yang menghubungkan organisasi/komunitas dengan beragam sosial dengan para relawan yang memiliki talenta dan potensi. Kami percaya bahwa kerja sama di antara kedua belah pihak akan memperkuat jejaring sosial masyarakat dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik di Indonesia

Website: http://indorelawan.org