Metha, Rida dan Donasi Buku #HariBukuNasional – Indorelawan Blog
Metha, Rida dan Donasi Buku #HariBukuNasional
May 31, 2016
0

Keterkungkungan fisik, menurut Bung Hatta, tidak ada artinya dibandingkan dengan keterkungkungan jiwa dan imajinasi. Karena keterkungkungan jiwa bisa menyebabkan fisik terpenjara oleh bui tak kasat mata yang membatasi ruang gerak kita. Tak heran lewat quote masyhurnya, beliau dengan gagahnya menyatakan bahwa “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Buat kita yang tinggal di kota besar, soal akses terhadap buku tergolong mudah, bahkan kita dapat membaca buku-buku yang dulunya dilarang pemerintah sambil bersandar santai di bangku empuk kafe sembari menyeruput kopi lamat-lamat. Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tinggal di daerah dan buku menjadi barang mewah yang harus dinomorsekiankan setelah kebutuhan akan pangan, papan, dan pakaian?

Perihal itulah yang menjadi kegelisahan Metha, salah satu founder Donasi Buku, ketika membaca sebuah tautan ke sebuah blog milik seorang travel blogger yang menceritakan kondisi sebuah perpustakaan yang terlalu sederhana di pesisir Pantai Kondang Merak, Malang Selatan dengan koleksi buku seadanya.

Metha dan Rida

Buat Metha, buku adalah sumber kesenangan tak terkira.

“Peran buku itu dari (saya) kecil (adalah) sebagai tempat jalan-jalan di ruang imajinasi. Setiap baca buku rasanya kayak ada film di kepala sendiri yang semua settingannya mengacu pada buku, tapi semacam tetep suka-suka saya,” ungkap Metha, “Sedari kecil sekian persen kebahagiaan saya disumbangkan oleh buku, saya melanglang buana membangun dunia fiksi sendiri di dalam pikiran, dan itu menyenangkan. Saya enggak rela anak-anak yang sedang berhasrat pada buku ini enggak bisa menikmati indahnya menciptakan dunianya karena mereka enggak punya akses,” lanjutnya

Metha benar-benar tidak bisa membayangkan jika banyak anak-anak di Pantai Kondang Merak yang tidak dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan serupa seperti yang ia rasakan sejak kecil dahulu dengan hanya membaca buku.

Kegelisahan pikirannya itu pun mendorong Metha untuk berbuat sesuatu agar anak-anak di sana (pesisir Pantai Kondang Merak) memperoleh kesempatan yang sama pula untuk dapat “mengonsumsi” buku.

Untuk merealisasikan keinginannya itu, Metha membutuhkan partner yang memiliki visi sama. Pilihan jatuh pada Rida yang memang telah lama dikenalnya sejak sama-sama menjadi relawan pengajar di Rumah Belajar. Apalagi Rida memiliki hobi jalan-jalan yang akan sangat membantu ketika proses penyaluran buku ke daerah yang membutuhkan.

Gayung bersambut. Karena bagi Rida, ajakan Metha itu seolah seperti jalan untuk memenuhi mimpi masa kecilnya.

“Sedari kecil, saya selalu bermimpi bisa menjelajahi Indonesia sampai ke pelosok seperti Papa saya & membantu saudara-saudara kita,” ujar Rida.

Butuh waktu hanya kurang lebih satu bulan buat mereka berdua untuk bergerilya dan mengumumkan kegiatan pengumpulan buku itu di media sosial masing-masing. Upaya itu berbuah manis dan berhasil mengumpulkan sampai 60 kg buku! Prosesnya tidak berhenti sampai di sana saja. Untuk mengirimkan buku pun mereka lakukan sendiri dari Jakarta ke Malang yang kemudian dibantu oleh teman-teman dari TDI Malang.

Keberhasilan project pertama mereka itu menjadi semacam candu yang tidak menyisakan efek negatif sama sekali! Bila pun menyebabkan sakau, yang terjadi adalah sakau berbuat baik. Buktinya, sampai sekarang, sejak Februari 2014, sudah lima project yang berhasil mereka jalankan, yaitu Pantai Kondang Merak (2 kali project), Pulau Semau, Waingapu, dan Flores.

Tim inti Donasi Buku memang hanya terdiri dari lima orang, yakni Rida, Metha, Arin (Manado), Arhul (Kupang), dan Bayu (suami Rida), tapi semua orang dapat ikut andil dalam kegiatan Donasi Buku sebagai relawan, apalagi jika buku yang terkumpul sangat banyak dan membutuhkan bantuan saat pengepakan dan penyortiran.

Biasanya, proses eksekusi project Donasi Buku diawali oleh permintaan dari teman-teman di daerah yang membutuhkan buku (kecuali project pertama mereka). Kebanyakan yang meminta adalah perpustakaan dan rumah baca meski tidak menutup kemungkinan bila ada juga sekolah di pelosok yang membutuhkan sumbangan buku.

Tahap selanjutnya, tim Donasi Buku akan menganalisis terlebih dahulu tingkat urgensi kebutuhan mereka dan mempertimbangkan banyak hal, termasuk apakah di rumah baca tersebut nantinya akan ada yang mengelola atau tidak.

Setelah itu baru akan disebarkan info pengumpulan buku melalui media sosial pribadi dan juga akun twitter, fanpage FB, dan web Donasi Buku (yang dibuat sejak project ketiga).

”Di setiap project kami biasanya membuat hashtag sesuai dengan project yang kami lakukan, misalnya #BukuUntukSemau, #DonasiBukuWaingapu,” ujar Metha

Proses selanjutnya adalah penyortiran dan pengepakan buku yang dilakukan di Jakarta dan ditangani langsung oleh duo Rida dan Metha. Untuk buku-buku yang terkumpul di Manado  maupun di Kupang, apabila Arin ataupun Arhul merasa kesulitan melakukan penyortiran sendiri, biasanya buku akan dikirim ke Jakarta terlebih dahulu.

Setelah dipak, buku akan dikirim dan diserahkan ke lokasi langsung oleh Donasi Buku karena pada saat penyerahan buku akan disertai sesi belajar sambil bermain bersama anak-anak. Selesainya kegiatan penyerahan buku tidak berarti selesai pula tugas Donasi Buku, biasanya mereka juga akan memantau lewat pengelola rumah baca/perpustakaan seperti saat pelaksanaan project #DonasiBukuFlores beberapa waktu lalu, tim Donasi Buku juga menyempatkan untuk kembali mengunjungi Semau.

Buat Donasi buku, project yang paling berkesan dan menjadi titik awal keseriusan mereka dalam menggarap Donasi Buku adalah saat donasi ke Pulau Semau. Selain banyaknya jumlah buku yang terkumpul, keterlibatan berbagai pihak di setiap proses donasi, dan tempat tujuan yang dikenal sebagai daerah yang masih kental dengan hal-hal berbau mistis, yang paling berkesan adalah penerimaan dan penyambutan anak-anak dan warga desa di sana.

Metha menyerahkan simbolis buku kepada Pak Sef

“Masih terekam dengan sangat jelas di kepala saya, tangis bahagia Pak Sef, kepala desa saat itu, karena mimpi-mimpinya untuk (dapat) memenuhi rak perpustakaannya dengan buku-buku tercapai sudah. Walau mungkin belum semua terpenuhi, tapi baginya sudah cukup untuk saat itu,” ungkap Rida.

“Di project ini pun membuat kami percaya pada kemampuan kami sendiri, dua perempuan random yang akhirnya bisa memberi sedikit solusi untuk memajukan pendidikan untuk generasi penerus bangsa,” sambung Metha.

Sejak awal didirikannya Donasi Buku, tujuan mereka sebenarnya sederhana. Donasi Buku ingin menyediakan anak-anak yang kurang beruntung itu akses untuk “jalan-jalan” lewat buku.

“Bayangkan, berdasarkan penuturan Rida dan Tim yang kemarin eksekusi ke Riung (project yang baru dieksekusi), anak-anak di sana banyak yang bahkan tidak bisa membedakan mana pesawat terbang, mana kapal laut!” Ungkap Metha dengan miris.

Donasi Buku menyadari segala keterbatasan mereka yang tidak bisa membawa anak-anak itu keliling dunia dan menunjukkan segala sesuatunya, tapi bukulah yang bisa menyediakan itu semua.

“Lewat buku, anak-anak bisa “jalan-jalan” kemana pun mereka mau, mereka bisa cari tahu proses untuk ini dan itu, mereka bisa memuaskan rasa ingin tahunya,” imbuh Metha.

Seperti juga komunitas lainnya, Donasi Buku juga memiliki hambatan dan tantangan untuk menjalankan dan melanjutkan project-project mereka selanjutnya. Salah satunya adalah soal waktu. Sering kali mereka mengalami kesulitan untuk menyamakan waktu bertemu, menyortir, maupun mengepak buku.

“Apalagi sejak partner saya menjadi CPNS tahun lalu. Sibuknya hampir ngalahin Presiden! Metha ini bisa dibilang bukan perempuan multitasking, jadi kalo dia sudah fokus sama kerjaan kantornya pasti susah banget dihubunginya bisa dibilang menghilang secara mistis. Kalo Metha lagi kumat (baca: menghilang), saya sudah paham kalau dia lagi butuh waktu untuk sendiri, jadi saya melakukan apa yg saya bisa lakukan dgn bantuan suami. Jika sudah mendekati deadline baru saya hubungi lagi (terkadang sambal ngomel-ngomel juga untuk mengembalikan Metha si tukang sortir buku ke jalan yg benar) hahaha.” Ujar Rida terus terang.

Selain itu juga tentang biaya yang hampir seluruhnya merupakan swadaya, bersumber kocek sendiri (mulai dari biaya keperluan sortir, pengepakan, pengiriman, maupun keperluan transport). Akan tetapi untuk hambatan terakhir ini mulai terbantu dengan terlibatnya beberapa teman yang mau ikut menutupi biaya aktivitas Donasi Buku. Meski mereka akui setelah ke sekian kali eksekusi, beberapa dus buku terpaksa mereka tinggal di Jakarta karena kekurangan biaya pengiriman.

“Buku yang tidak terbawa saat eksekusi akan kami kirim di kemudian hari setelah biaya sudah kembali terkumpul,” ungkap mereka berdua.

Segala hambatan itu rupanya tidak menyurutkan semangat keduanya untuk tetap aktif dalam kegiatan Donasi Buku. Mereka berharap ke depannya Donasi Buku bisa menjangkau lebih banyak anak-anak, lebih banyak daerah, membantu anak-anak itu dalam mengakses buku.

Menurut Metha dan Rida, hasil beberapa survey yang menyatakan bahwa minat baca di Indonesia paling rendah di ASEAN, bukan melulu soal minimnya ketertarikan orang-orang Indonesia terhadap buku saja. Bisa jadi salah satu penyebab terbesarnya adalah jutaan anak-anak di daerah tidak mendapat akses buku yang mudah.

“Coba pemerintah fokus menyediakan buku untuk anak-anak di daerah, niscaya angka pembaca buku di Indonesia (akan) bertambah,” tegas keduanya.

Membaca kisah Metha dan Rida di atas, semoga bisa menjadi inspirasi dan pengingat bagi diri kita sendiri bahwa sebenarnya banyak aktivitas baik yang bisa diawali dari hal-hal sederhana. Berawal dari hobi membaca, terbesitlah keinginan Metha dan Rida agar anak-anak di pelosok sana memperoleh kesenangan yang sama lewat buku. Keinginan yang benar-benar mereka berhasil wujudkan sendiri.

Berbuat baik itu candu yang positif. Kamu tertarik kecanduan hal yang serupa?

indorelawan

Post by indorelawan

Indorelawan adalah wadah daring yang menghubungkan organisasi/komunitas dengan beragam sosial dengan para relawan yang memiliki talenta dan potensi. Kami percaya bahwa kerja sama di antara kedua belah pihak akan memperkuat jejaring sosial masyarakat dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik di Indonesia

Website: http://indorelawan.org