Ada Persatuan Dalam Kerelawanan
September 24, 2019
0

Kita – orang Indonesia – hidup dalam keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Suku, ras, agama, bahkan strata sosial yang amat berbeda. Tapi sadarkah selama ini kita sedang hidup dalam gelembung-gelembung sosial yang memisahkan karena adanya perbedaan tersebut? Kita hanya berkelompok dengan orang-orang tertentu saja. Mereka yang berada di lingkungan kita. Bahkan kita biasanya hanya pergi ke tempat-tempat ‒yang menurut kita, sesuai dengan strata sosial.

Interaksi lintas budaya kian hari kian jarang ditemui sehingga potensi adanya kompetisi sangat tinggi. Padahal interaksi tersebut adalah sebuah perwujudan akan keberagaman kita sebagai orang Indonesia yang menganut Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Interaksi ini pula yang dapat menciptakan jembatan di dalam ruang perbedaan untuk bertemu, kenal, dan saling percaya. Hingga akhirnya interaksi ini pula yang akan meningkatkan toleransi antar kelompok, komunitas, ras, suku, budaya, agama, dan latar belakang apapun yang kita miliki sebagai orang Indonesia.

Mungkin sebagian dari kita sudah menyadari akan hal tersebut tapi belum tahu solusi apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan sifat toleran antar masyarakat. Jika ditanyakan pada saya, jawabannya adalah dengan menjadi relawan. Faktanya kerelawanan bisa menciptakan interaksi lintas budaya tersebut. Bisa membuat masyarakat lebih toleran karena fokus kerelawanan terletak pada isu sosial. Misalnya saja saya dengan Anda berbeda suku tapi ketika kita menjadi relawan, kita memiliki kesamaan yaitu kepedulian untuk mengatasi masalah sosial entah itu pendidikan, lingkungan atau kemiskinan. Terjadi komunikasi antar relawan, pun antara relawan dengan pihak-pihak yang dibantu. Dalam kerelawanan itu tidak ada yang lebih tinggi di antara yang lainnya. Semuanya setara. Semuanya mendapatkan keuntungannya masing-masing. Di satu sisi tentu saja mereka yang membutuhkan bantuan mendapatkan manfaat langsung. Di sisi lain para relawan pun tidak kalah banyak mendapatkan hal-hal luar biasa yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Kerelawanan bisa menciptakan interaksi lintas budaya.

Sebagai makhluk sosial, berbuat baik adalah sebuah kebutuhan. Berbuat baik membuat kita memiliki penghargaan diri, merasa menjadi orang yang baik, berguna untuk orang lain. Walaupun tidak dinyatakan secara verbal, saya cukup yakin, semua orang ingin merasa dirinya berguna agar memiliki hidup yang lebih bermakna. Buktinya kala seseorang tidak bisa merasa begitu berguna di pekerjaannya, dia akan mencari di tempat lain. Entah di komunitasnya, kelompok sosialnya, atau bahkan di keluarga. Saat kita kerja, belum tentu kita benar mengubah hidup seseorang. Berbeda dengan menjadi relawan. Pencapaian menjadi seorang relawan adalah mengubah hidup seseorang secara langsung dan nyata. Orang yang hidupnya susah jadi bahagia, yang tadinya tidak punya harapan jadi punya harapan. Membuat hidup kita terasa lebih bermakna karena kita berguna untuk orang lain.

Suatu kali saya diundang sebuah komunitas untuk menyaksikan acara wisuda. Tapi bukan sembarang wisuda. Mereka yang menjadi lulusan adalah orang-orang yang kurang beruntung seperti pembantu rumah tangga dan office boy. Mereka mendapatkan bantuan dari para relawan untuk bisa mengejar dan mengantongi gelar pendidikan secara gratis. Ada yang sudah berumur 27 tapi baru lulus SMA. Dia mengutarakan betapa bersyukurnya dengan program tersebut. Betapa akhirnya dia bisa memiliki mimpi setelah mendapatkan gelar lulusan SMA. Sungguh terharu melihat mereka yang merasa beruntung bisa terbantu dan melihat para relawan yang juga bahagia bisa mengubah hidup seseorang. Saya yakin kebahagiaan itu tidak luput dari rasa bersyukur kita yang memiliki kelebihan dan kehidupan yang lebih baik dari mereka yang kekurangan. Bisa berada dalam keluarga yang lebih beruntung. Kita seringkali melihat kisah media sosial yang hanya menunjukkan kesenangan saja. Padahal di luar sana banyak hal istimewa yang dapat membuat kita merasa menjadi individu yang lebih baik. Dengan menjadi relawan kita bersentuhan langsung dengan seseorang yang membutuhkan uluran tangan, menyadarkan betapa beruntung hidup kita selama ini.

Sebagai makhluk sosial, berbuat baik adalah sebuah kebutuhan.

Jujur, alasan saya ketika mendirikan Indorelawan — selain melihat banyak orang yang punya niat untuk berbuat baik tapi tidak tahu harus mulai dari mana, cukup personal. Latar belakang keluarga saya penuh dengan keberagaman. Orangtua saya berbeda agama. Saya bersekolah di sekolah Kristen meski saya tidak beragama Kristen. Saya besar dalam lingkungan yang membuat saya harus memiliki rasa toleransi yang tinggi dan inilah yang ingin saya sebarkan pada orang lain agar tercipta masyarakat yang damai. Sebab saya ingin anak saya kelak bisa tinggal dan hidup di negara yang damai. Tapi saya tahu jika tidak berbuat apa-apa maka tidak akan terjadi. Sehingga keinginan saya untuk menciptakan masyarakat yang toleran membulatkan tekad untuk membentuk ruang di mana masyarakat dapat mudah menjadi relawan. Waktu meneruskan S2 di Harvard, Amerika Serikat, saya mempelajari bahwa untuk membuat perubahan di sebuah negara itu tidak hanya berasal dari pemerintah saja. Ada faktor institusi swasta, serta masyarakat sipil. Sehingga pemerintah tidak bisa berjalan sendiri untuk mengembangkan negara yang lebih baik. Perspektif ini yang kemudian mengakar di benak dan memotivasi saya untuk mengadakan pergerakan di masyarakat di mana masyarakat Indonesia sebenarnya sangat berpotensi sekali untuk membuat perubahan.

Sumber:

Agung, Widharmika. (n.d). Ada Persatuan Dalam Kerelawanan. Diakses dari https://greatmind.id/article/ada-persatuan-dalam-kerelawanan pada tanggal 24 September 2019.

Gambar dari: rawpixel.com