Aksi Nyata untuk Bumi Tercinta
April 22, 2016
0

Kalau ada orang iseng bertanya apa yang kamu sudah lakukan untuk bumi tempat kamu tinggal, apa kira-kira jawabanmu yang paling jujur?

Mungkin kamu, seperti saya dulu juga, akan menjawab belum melakukan apa-apa. Karena kamu, misalnya, belum pernah ikut aksi penyelamatan penguin-penguin Afrika lucu yang tubuhnya berlumuran tumpahan minyak di laut, terdepan saat memadamkan kebakaran hutan yang tiap tahunnya rutin terjadi di Sumatera dan Kalimantan, ataupun aksi-aksi heroik lainnya yang sepertinya tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa, seperti kita.

Bahwa aksi-aksi yang dilandasi semangat cinta langit dan laut biru atau pohon hijau, sepertinya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang hidup-matinya didedikasikan untuk lingkungan semata. Bukan untuk kita, yang terus terang, hari-harinya masih diliputi perasaan khawatir kuota internet habis sebab kebanyakan nonton streaming video atau dikejar-kejar tugas kuliah yang diampu oleh dosen paling susah senyum sedunia dan suka menyiksa batin mahasiswanya siang-malam.

Tapi —

Great things are done by a series of small things brought together,” begitu ujar Vincent van Gough dari kejauhan.

Ada banyak persoalan yang ‘memberatkan’ bumi kita tercinta saat ini yang tidak bisa diselesaikan oleh segelintir saja orang-orang luar biasa saja. Karena jelas, mereka bukan Bandung Bondowoso yang bisa membuat seribu–kurang satu—candi dalam semalam. Jutaan orang-orang biasa seperti kita, kalau melakukan hal-hal kecil saja untuk bumi, dampaknya akan kentara. Kalau kata almarhum nenek saya, ribuan teri kalau bekerja sama, bisa menggulingkan dan menenggelamkan kapal tanker juga!

Sebut saja contoh persoalan ketersediaan air bersih dunia. Faktanya, sekitar 1,1 milyar manusia memiliki akses terhadap air bersih yang terbatas dan sekitar 2,7 milyar manusia mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan dalam setahun.

Tidak usah jauh-jauh. Di Indonesia sendiri, tepatnya di Pulau Jawa pada tahun 2005, sekitar 77 persen wilayahnya (selain wilayah jabodetabek) mengalami defisit air satu sampai delapan bulan tiap tahunnya (saat musim kemarau). Dan diperkirakan pada tahun 2025 nanti akan terjadi peningkatan defisit air menjadi 78,4 persen wilayah dengan waktu defisit air selama satu hingga dua belas bulan! Ngeri!

Atau tentang pohon yang menjadi tema Hari Bumi tahun ini. Mungkin terdengar klasik, tapi keberadaan pohon sangatlah penting untuk manusia. Bukan hanya produk akhirnya, seperti kertas atau sebagai baku pembuatan kebutuhan papan kita, tapi ‘napas’-nya saja sudah sangat dibutuhkan manusia. Ya, oksigen hasil fotosintesis sebuah pohon adalah syarat utama yang bisa menyokong hidup manusia, begitu juga bagi makhluk hidup lainnya.

Dalam sebuah penelitian tahun 2015 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menyebutkan bahwa jumlah pohon di bumi ini saat ini ada sekitar 3 trilyun pohon. Tapi jangan keburu senang dulu. Jumlah itu sudah berkurang sebanyak 46% sejak awal peradaban manusia mengenal pertanian dahulu. Dan sekitar 15 milyar pohon ditebang tiap tahunnya. Kecepatan jumlah pohon yang ditebang juga cenderung meningkat tiap tahunnya. Jumlah 3 trilyun itu pun masih diperdebatkan karena berlainan dengan estimasi yang pernah ada sebelumnya bahwa jumlah pohon di bumi ini ada sekitar 400 milyar pohon.

Soal sampah juga menjadi beban ibu bumi kita yang lainnya. Di Indonesia saja perkiraan jumlah sampah per harinya adalah 175.000 ton per hari. Per hari! Bahkan Indonesia ‘berprestasi’ menjadi runner-up penyumbang sampah plastik kedua ke laut terbesar di dunia. Bagaimana di dunia? Sekitar 5,25 trilyun potongan sampah berada di lautan. Sekitar 269.000 ton sampah dari jumlah itu mengambang di permukaan laut dan sekitar 4 milyar plastik mikrofiber per km perseginya berada di kedalaman laut.

Bayangkan jika kita, bersama jutaan orang lainnya di bumi, tidak berbuat apa-apa untuk mencegah percepatan bertambahnya jumlah sampah atau penurunan jumlah pohon dan jumlah air bersih, mungkin kelak bumi hanya tinggal tanah tandus yang dipenuhi sampah dan kotoran saja! Enggak asik!

Aksi Nyata Kita

Lalu apa langkah kecil yang bisa kita lakukan sebagai orang biasa? Kita bisa berbuat semudah dengan membuang sampah sesuai dengan jenis sampahnya, pada tempatnya. Kalau tidak ada tempat sampah yang disediakan, bawa pulang sampah kita! Klise memang, tapi jujur, hal seklise itu pun masih lupa dilakukan oleh kita. Lihat saja betapa banyak jumlah sampah yang tergeletak di jalanan pasca Car Free Day yang jelas diikuti kita-kita yang berpendidikan lebih tinggi dari sekolah dasar.

Hal lain yang bisa dilakukan berhubungan dengan penggunaan air. Jangan karena tinggal di kota besar yang tergolong mudah akses air bersihnya, kita berleha-leha di atas penderitaan saudara kita di pelosok Gunung Kidul yang saban tahun harus menderita kekurangan air bersih.

Cara menghematnya bagaimana? Kalau hobi berkebun, kita bisa menggunakan air bekas cuci beras untuk menyiram tanaman, bisa juga menampung air hujan untuk mencuci kendaraan, atau segera memperbaiki kran air yang bocor agar tidak ada setetes air pun yang terbuang sia-sia.

Untuk soal sampah, semangat yang ditularkan oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik sepertinya bisa kita aplikasikan segera. Karena plastik termasuk bahan yang non-biodegradable dan butuh waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk bisa terurai. Bahkan botol plastik yang terbuat dari PET (polietilen Tereftalat) tidak akan bisa terurai secara biologis! Jadi logis sepertinya kalau kita mulai puasa menggunakan kantong plastik dan membawa sendiri tas belanjaan dari rumah.

Kalau hal-hal sederhana seperti di atas sudah jadi kebiasaan keseharian dan kamu ingin berbuat lebih lagi, kamu bisa gabung dengan beragam komunitas yang ada di Indorelawan. Banyak organisasi dan komunitas di sini yang bergerak di bidang lingkungan, loh!

Contohnya Pepulih yang merupakan komunitas peduli lingkungan hidup yang berbasiskan keimanan tapi beranggotakan dari berbagai agama. Saat ini juga Pepulih membutuhkan relawan videografer untuk kegiatan mereka.

Kamu juga bisa lirik Greenpeace yang kiprahnya sudah tidak diragukan lagi untuk lingkungan hidup. Kenal Yayasan Kebun Raya? Mereka ini yayasan yang mendukung pelestarian keanekaragaman tumbuhan tropis Indonesia, khususnya spesies tumbuh-tumbuhan yang dikategorikan langka. Kalau kamu concern masalah pelestarian spesies langka, bisa ikutan kegiatan mereka.

Komunitas Hidden Park menghias taman jadi tempat untuk berekreasi yang nyaman

Masih mau yang lain? Kamu bisa juga ikutan kampanye Waste4Change, gaul bareng Hiddenpark, atau yang di Jakarta bisa ikutan komunitas Bersih Nyok! yang punya visi Mengubah perilaku dan mindset warga Jakarta yang kesannya individualis dan apatis sama keadaan sekitar agar lebih sadar dan terlibat aktif menjaga kebersihan diri, lingkungan rumah, dan lingkungan Jakarta. Suka hal-hal yang kreatif? Kamu bisa ikutan SiDalang (Kreasi Daur Ulang).

Kalau domisili kamu di Malang, kamu bisa gabung dengan Malang Osoji Club (Malang) yang merupakan sekumpulan anak muda yang concern masalah sampah di Malang. Ada juga Zona Bening (Batu, Jatim) yang berusaha mengajak masyarakat untuk mempunyai kesadaran terhadap lingkungan.

Kamu yang di Bali bisa ikutan Bye Bye Plastic Bags yang mengedukasi dan berbagi informasi mengenai dampak negatif dan kantong plastik sampai menjalankan desa binaan Untuk mengurangi sampah plastik di Sungai dan pantai serta mumbuat Bali menjadi pulau hijau.

Urang Bandung, jangan kalah dengan kawan-kawan di daerah lain! Kamu bisa ikutan Greeneration Indonesia atau Bandung Cleanaction.

Yang jelas, aksi untuk bumi kamu jangan dibatasi oleh waktu aja. Di luar tanggal 22 April, aksi-aksi kecilmu masihlah diperlukan untuk bumi yang lebih hijau dan nyaman untuk kita semua.

Ditulis oleh Ryeska Fajar.