Namaku Rusdiyan, tapi banyak orang yang memanggilku Rus. Saat ini aku aktif sebagai trainer zero waste di Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB). Prinsip hidup yang kupegang: membawa nilai-nilai humanis dan sosial, telah membawaku hingga sejauh ini. Aku pernah merasa berbeda hanya karena prinsip tersebut. Sebagai seseorang yang moderat, menghindari konflik, dan suka dengan kehidupan sosial, aku merasa pekerjaan yang dulu kujalani tidak sesuai dengan nilai yang aku yakini, sehingga aku memutuskan untuk resign.
Kehilangan Arah, Menjadi Titik Awal Perjalanan
Pilihan untuk resign tersebut membawaku pada konsekuensi besar: kehilangan arah, kehilangan rutinitas, sekaligus kehilangan makna hidup. Aku sempat mengalami demotivasi, bahkan dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan vonis stres dari dokter. Saat itu, aku bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan rasa percaya diri dan identitas.
Aku sempat bertanya-tanya pada diriku: “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa sampai seperti ini?”. Selama masa pemulihan, aku mulai banyak membaca, terutama buku tentang psikologi untuk menemukan jawabannya. Dari proses itu, aku menyadari bahwa sumber tekanan terbesarku adalah hilangnya kesempatan untuk memberikan kontribusi dalam kegiatan sosial yang sesuai dengan prinsip yang kupegang.
Aneh, bukan? Itu yang dikatakan oleh seorang temanku 10 tahun lalu. Katanya aku berbeda dari yang lain, hanya karena aku memilih menghabiskan waktu libur dengan naik bis pulang-pergi. Atau karena aku memilih untuk membantu ayah temanku yang sakit di rumah sakit daripada membuat pesta pernikahan. Hal yang terlihat kecil, tapi sangat bermakna bagiku. Karena kalau tidak melakukan hal semacam itu, aku merasa ada yang salah. Aku merasa tidak pantas bahagia jika lingkungan sekitarku membutuhkan bantuan tetapi aku hanya berpangku tangan.
Perjalanan untuk Menemukan “Jiwa” yang Hilang
Aku sempat berpikir, apakah aku benar-benar aneh atau berbeda karena kepribadianku? Ternyata, hal itu terjadi karena lingkunganku hanya itu-itu saja. Dari situ aku memutuskan untuk kembali menjadi diriku sendiri: membantu orang lain sesuai dengan kemampuan dan passion yang aku punya dengan mencari tahu kontribusi apa yang bisa kuberikan dan kepada siapa saja.
Pencarianku membawaku kepada Indorelawan. Di sana aku mulai menjelajah kemungkinan baru untuk kembali aktif, tapi kali ini dalam konteks yang lebih sosial. YPBB menjadi organisasi pertama yang kuikuti melalui Indorelawan. Aku mendaftar sebagai organizing committee dalam sebuah project, dan pengalaman itu yang menjadi titik balik dalam hidupku.
Di YPBB, aku bisa menyalurkan ilmu dan keterampilan yang aku punya dari pekerjaan sebelumnya. Aku merasa diterima di lingkungan yang terbuka, hangat, dan inklusif. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama membuatku bersemangat, dan stress yang kurasakan dulu hilang begitu saja. Aku merasa hidup kembali. Ternyata inilah jawaban atas pertanyaanku sebelumnya, aku butuh “memberi makan” jiwaku.
Kecocokan yang kurasakan di awal membuatku mendaftar kembali sebagai trainer magang, lalu berlanjut menjadi trainer zero waste penuh. YPBB membuatku berani untuk melangkah lebih jauh. Sekarang aku sudah menemukan pekerjaan sebagai driver. Pekerjaan ini mungkin terlihat sederhana, tapi justru memberikan banyak ruang, baik waktu maupun batin, untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dengan aktivitas sosial. Aku merasa utuh dan cukup.
“Sesuai dengan prinsip hidup yang aku yakini, sebanyak apapun yang kita miliki, tidak akan memberikan kebahagiaan hidup selama kebutuhan jiwa kita tidak terpenuhi”, dengan penuh keyakinan aku menjawab ini.
Rumah Kedua untuk Tinggal

Hubunganku dengan YPBB ibarat tali yang semakin kuat teranyam. Basecamp YPBB sudah seperti rumah keduaku. Bahkan saat tak ada kegiatan resmi, aku sering datang untuk mengobrol, berdiskusi, atau sekadar membaca di sudut ruangan. Kadang aku menginap semalam, hanya karena ingin merasakan kebersamaan dengan tim yang sudah seperti keluarga.
Aku juga belajar mengurangi ekspektasi pada diriku sendiri. Dulu aku perfeksionis, kini aku lebih fleksibel dan spontan, termasuk dalam memilih kegiatan sebagai relawan. Menjadi perfeksionis itu melelahkan. Bersama YPBB, aku merubah cara pandangku.
“Namun, semuanya harus belajar dari nol dulu dengan menguatkan pondasi baru dan bisa melangkah ke step selanjutnya,” hal ini yang masih diterapkan sampai saat ini.
Pesan untuk yang Masih Bingung Mencari Kegiatan Relawan
Pesanku untuk siapa pun yang mungkin merasa belum cocok di mana pun: jangan menyerah mencari. Kadang kita hanya perlu menemukan komunitas yang mau menerima kita apa adanya, tempat di mana kita bisa membuka diri, berbagi, dan tumbuh bersama. Ketika akhirnya kita menemukannya, jalan untuk berkontribusi akan terbuka dan bagian-bagian diri yang sempat hilang akan kembali lengkap.
Menjadi aktivis tidak harus heboh atau jadi pusat perhatian. Bagiku, aktivisme itu sederhana: hadir, membantu, dan peduli, meski dalam hal kecil.
Kalau kamu merasa belum menemukan komunitas yang pas atau sering merasa ‘berbeda’, ingatlah: setiap orang berjalan dengan ritme dan jalannya sendiri. Jangan cepat menyerah. Kadang, kita hanya perlu menemukan satu tempat yang mau menerima kita apa adanya. Dari situlah, kita bisa berkembang dan menemukan kekuatan sejati.
Kontribusi tidak diukur dari besar kecilnya aksi, tapi dari keikhlasan dan konsistensi dalam memberi. Sekecil apa pun bantuanmu, entah memberikan waktu, tenaga, atau sekadar perhatian, bisa berdampak besar bagi orang lain. Aku sudah merasakan sendiri betapa bermaknanya hal-hal sederhana.
Kalau kamu juga sedang berada di situasi yang sama dan sedang mencoba menemukan organisasi relawan yang sesuai, kunjungi Indorelawan.org, cari dan temukan yang sesuai dengan passionmu dan ditunggu kontribusimu.
Penulis: Najwa Salsabila
Penyunting: Nabila Aprisanti
Cerita dan dokumentasi hasil interview bersama narasumber