Pohon Teduh itu Simbol dari Kolaborasi yang Raya

Pohon Teduh itu Simbol dari Kolaborasi yang Raya

November 2025. Saat itu pukul tujuh pagi, hari Sabtu yang cerah di Yogyakarta, matahari sedikit tertutup dahan dan akar pohon beringin besar di sebelah gedung pendopo JNM Bloc, aku melihat satu pemandangan yang visualnya masih menempel di kepala. Sederhana tapi memukau, satu persatu relawan menghampiri meja tempatku melakukan registrasi dan briefing pagi. Ada yang sudah dandan rapi dan wangi, tapi ada juga yang datang dengan kantong mata, menguap, dan tersenyum, aku tebak dia begadang semalaman menyelesaikan tugas kuliahnya agar bisa bertugas penuh menjadi relawan.

Siap, dua hari kedepan kita akan bekerja bersama membantu ratusan peserta terlibat secara bermakna di Pasar Kolaboraya 2025 kali ini.

Pasar Kolaboraya 2025 menjadi ruang dimana gagasan-gagasan sosial dari berbagai komunitas tidak hanya dipamerkan, tapi dipertemukan, dan dikembangkan. Ruang Pendopo penuh percakapan serius, tentang teknologi, politik, ekonomi, lingkungan, dan hal-hal yang sering terasa terlalu besar untuk ditangani sendirian. Sementara itu, area Pasar Komunitas penuh warna khas masyarakat Yogyakarta: bau dupa, bambu, kain, makanan lokal, suara tawa, obrolan dalam bahasa lokal, debat kecil, saling berinteraksi dengan organiknya.

Di antara semua itu, ada 116 relawan yang memiliki peran penting dalam menghubungkan satu ruang pertemuan dengan lainnya. Mereka berdiri, berjalan, berlari, bertanya-jawab, tersenyum, berinteraksi, mencatat, menciptakan ritme yang tak pernah berhenti. Semuanya ingin terlihat maksimal mendukung jalannya acara. Terkadang lalai meletakan barang bawaan di pojokan dan kena tegur, gak papa.

Sebagai simpul kerelawanan, Indorelawan memang datang sebagai co-organizer dengan tugas mengelola para relawan. Tapi di balik itu semua, kami datang untuk belajar. Belajar tentang cara komunitas membangun ruang yang benar-benar terasa milik semua orang. Belajar tentang bagaimana kolaborasi yang tulus bekerja, bukan hanya di atas kertas plano dan metaplan warna-warni tapi dari laku gerakan sosial tingkat tapak di masing-masing daerah asal mereka yang diceritakan kembali dengan antusias dan ditukar daya. Ini menunjukkan bagaimana kita berdaya sebagai masyarakat sipil.

Tidak menunggu bantuan datang tapi menciptakan peluang.  Serta, belajar bahwa ketika sebuah event diletakkan di tangan masyarakat, hasilnya bisa jauh melampaui ekspektasi.

Aku masih ingat salah satu percakapan, ketika Tri Puspitasari, relawan registrasi, bercerita dengan mata berbinar. Tri adalah mahasiswi psikologi semester 5 yang suka mempelajari bagaimana manusia berinteraksi dalam sebuah kolektif.

“Pasar Kolaboraya kasih insight baru tentang kolaborasi komunitas lintas sektor. “Aku baru ngeh kalo di luar sana banyak banget orang hebat yang masih peduli sama keresahan yang dekat dengan hidup mereka, tapi sering gak kedengeran aja. Mereka ketemu di sini, ngobrolin keresahan lewat percakapan, terus jadi langkah kecil menuju aksi.”

Tri bukan hanya bekerja menjadi PIC. Dia menjadi saksi atas sesuatu yang lebih besar dari rundown dua hari. Ia melihat bagaimana orang-orang bersandar pada satu sama lain, bagaimana energi positif bergerak tanpa batas, bahkan sebelum orang-orang itu sempat menanyakan nama masing-masing. Ia menyaksikan bagaimana relawan bisa pulang dengan tubuh lelah tapi hati yang penuh. Ketika ia berkata, “Semoga perjalanan ini nggak berhenti di Jogja,” aku tahu itu bukan hanya harapan untuk sebuah event, tapi untuk sebuah gerakan.

Lalu ada Zepanya, relawan notetaker pendopo, yang memiliki cara pandang yang lebih lembut, lebih reflektif.

“Such a nice experience where I can get the opportunity to be near to all the experienced, smart, and critical people.”

Kalimat itu sederhana, tapi mampu menggambarkan atmosfer pendopo yang dipenuhi percakapan penting. Baginya, menjadi relawan di Pasar Kolaboraya justru terasa seperti menjadi tamu kehormatan. Difasilitasi dengan baik, diberi ruang untuk berkembang, dan dikelilingi oleh orang-orang yang peduli pada isu-isu besar tanpa membuatnya merasa kecil.

Ia bahkan sempat bercanda, “Rasanya bukan kayak relawan, kak.” Aku tahu yang dia maksud bukan fasilitas fisiknya, tapi suasana emosional yang dibangun panitia dan relawan lain. Pasar Kolaboraya memberi rasa tenang, rasa dihargai, rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih luas dari diri sendiri.

“A very modern-cultural way to connect people,” katanya.

Dan benar, di ruang itu, budaya, teknologi, ekologi, dan politik tidak dipisahkan. Mungkin itu seperti ranting ranting kecil yang menopang kehidupan sebuah pohon besar, jadi wahana untuk menyalurkan daya dari akar ke daun dan dikembalikan lagi ke seluruh satuan. Menyaksikan itu, aku jadi berpikir ulang tentang makna kolaborasi, baik secara personal maupun kelembagaan.

Sebagai fasilitator, pekerja sosial, dan bagian dari Indorelawan, aku sering berbicara tentang kolaborasi dalam konteks tata kelola komunitas sosial atau manajemen relawan. Bagaimana kolaborasi mengutamakan kekuatan dan aset individu yang menjadi aset kolektif. Kolaborasi yang aku kenal adalah bgaiamana sekelompok orang meluangkan waktu, tenaga, dan materiil untuk tujuan bersama. Tapi Pasar Kolaboraya mengajarkan sesuatu yang berbeda. Di sini, kolaborasi bukan soal menyatukan tujuan antarlembaga, bukan dengan pertemuan yang memaksa.

Kolaborasi adalah tentang menciptakan ruang aman di mana setiap orang, dari latar mana pun, bisa merasa layak bersuara. Ia bukan teknik, lebih ke pengalaman. Ia bukan sistem, ia adalah emosi. Maka dari itu ada satu momen ketika aku menjadi mentor untuk sebuah presentasi kreatif dengan memanfaatkan seni berpuisi (slam poetry) untuk membalut isu teknologi sebagai kekuatan ekosistem raya yang aku dampingi. Menceritakan pengalaman dengan emosi, ruang pendopo menjadi ruang antara yang mengajak orang berjual-beli ide dengan bantuan aplikasi (seketika di kepalaku langsung berteriak: TEKNOLOGIA!).

Meski ide kolaborasinya belum matang sempurna, masih ada proses tawar menawar yang belum selesai, aku mendapatkan satu hal penting. Dalam sebuah kolaborasi, kadang ada banyak hal tidak ideal, perbedaan kapasitas organisasi, peran yang sedikit timpang, sumber daya yang belum mencukupi, kesepakatan yang belum genap, atau ide yang terlalu besar, itulah kolaborasi. Tidak sempurna memang, tapi dengan proses yang baik, hasilnya pasti selalu bisa dirasakan. 

Sebagai Indorelawan, kolaborasi berarti hadir untuk memperkuat kapasitas para relawan dan komunitas, bukan mengambil panggung, tapi menyediakan panggung tambahan. Di Kolaboraya, kami tidak hanya membantu mengatur jalannya acara, memetakan kebutuhan area, atau memastikan logistik berjalan. Kami menjaga denyut relawan: memastikan mereka punya ruang untuk beristirahat, kesempatan untuk belajar, waktu untuk saling mengenal, dan kepercayaan diri untuk berkontribusi.

Kami melihat sendiri bagaimana relawan bukan sekadar pendukung acara, tapi penjaga suasana, penopang energi, dan katalis yang membuat setiap interaksi menjadi bermakna. Aku masih ingat betul bagaimana di akhir hari kedua, relawan-relawan ini berjoget melepas lelah dan merayakan pencapaian bersama di panggung Pasar Kolaboraya. Tidak ada kata jaim (baca: jaga image), semua berdendang mengikuti pemandu karaoke malam itu yang diguyur hujan.

Aku melihat relawan fotografer yang hampir tidak berhenti berjalan, menangkap setiap momen di balik lensanya. Relawan Liasion Officer (LO) yang selalu bertanya, “setelah ini apa lagi kak, setelah itu apa lagi kak?” Relawan runner yang seperti bayangan, muncul setiap kali dibutuhkan, tanpa perlu diminta dua kali. Dan relawan notetaker seperti Zepanya yang duduk berjam-jam mencatat percakapan kompleks tentang masa depan, lalu pulang membawa istilah-istilah keren di kepalanya.

Itulah yang membuatku percaya bahwa kerelawanan bukan sekadar bantuan. kerelawanan adalah bahasa. Bahasa yang dipakai anak-anak muda untuk mengatakan bahwa mereka peduli dengan caranya. Bahasa yang membuat sebuah acara seperti Pasar Kolaboraya berubah dari program menjadi gerakan. Menjadi ruang antara yang menghubungkan keresahan dengan aksi, gagasan dengan komunitas, dan orang-orang yang ingin mengambil peran dengan kesempatan untuk melakukannya.

Tidak heran, jargon #UbahNiatBaikJadiAksiBaikHariIni akan selalu relevan buat kami.

Dan di situlah Indorelawan menemukan makna terdalam dari kolaborasi. Bahwa sesuatu yang baik akan tumbuh jika dikerjakan bersama. Bahwa gerakan sosial bukan milik satu organisasi, tapi milik semua orang yang mau turun tangan. Bahwa relawan tidak boleh diperlakukan sebagai tenaga cadangan atau tenaga murah, melainkan sebagai suporter setia, seperti perannya dalam kartu milik Roemah Inspirit. Bahwa event seperti Pasar Kolaboraya tidak hanya penting bagi komunitas, tapi juga bagi kami, karena ia mengingatkan lagi untuk apa Indorelawan berdiri. Kalau kata Ki Hajar Dewantara, ing madya mangun karsa. Itu peran yang sedang kami ambil saat ini.

Pada akhirnya, ketika acara ditutup di sore hari kedua, suasana JNM Bloc terasa berbeda. Lelah, tentu saja, tapi juga hangat. Ada pelukan singkat, foto bersama, ucapan terima kasih, dan obrolan kecil tentang bagaimana event ini harus terus ada, di kota-kota lain. Dan saat aku meninggalkan lokasi, aku membawa pulang satu hal yang tidak bisa digantikan: keyakinan bahwa kolaborasi yang dikerjakan dengan hati bisa menciptakan ruang yang menyembuhkan, menggerakkan, dan mempertemukan orang-orang yang sedang mencari rumah perjuangannya. Memang agak terbawa perasaan ketika aku ada di kereta pulang.

Merasa kehilangan rutinitas singkat, sebuah escape plan dari hiruk-pikuk Jakarta yang serba cepat dan individual tergantikan oleh Yogyakarta yang lebih mindful dan genuine.

Pasar Kolaboraya 2025 mungkin selesai, tapi geraknya belum. Ia hidup di dalam relawan yang pulang dengan cerita dan menagih untuk dilibatkan lagi di tahun-tahun kedepannya (dalam hati: 2026 di kota mana saja, kami juga belum tahu). Di dalam Indorelawan yang kini punya pemahaman baru tentang bagaimana mendampingi gerakan sosial, kami jadi lebih ajeg menentukan posisi kami. Kami akan berusaha menggapai dan membantu semua aksi kolektif yang membutuhkan relawan, dimanapun dan apapun bentuk kerja samanya. Dan di dalam setiap orang yang pernah berdiri di JNM Bloc hari itu, merasakan bahwa dunia bisa digerakkan sedikit demi sedikit asal kita melakukannya bersama.

Seperti pohon beringin besar JNM Bloc yang juga jadi simbol, kolaborasi akan bertahan lebih lama jika kita punya akar yang kuat, batang yang kokoh, cabang yang menggeliat ke semua penjuru, daun yang selalu memasak, hingga menjadi kesatuan utuh. Terima kasih untuk Roemah Inspirit dan Arkom Yogyakarta. Ajakan untuk Indorelawan itu membuat setiap relawan, individu, komunitas, kolektif, organisasi besar, ekosistem raya, saling membutuhkan satu sama lain. 

Ya, kita akan lebih keren jika kita bersama-sama. We are always #BetterTogether.

Penulis: Shendy Ristandi
Penyunting: Indorelawan
Dokumentasi: Pasar Kolaboraya 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *