Rumus E.R.T: Cara Sederhana Relawan Menjaga Hutan

Rumus E.R.T: Cara Sederhana Relawan Menjaga Hutan

Isu pembalakan hutan di Indonesia kembali mencuat, terutama di Sumatera yang masih berjuang pulih dari bencana sejak akhir 2025. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga kehidupan banyak orang. Tindakan tangan manusia yang masih setengah hati inilah menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi saya. Bagaimana tidak? Itu membuat sebagian makhluk hidup kehilangan napas lega yang seharusnya mereka rasakan saat ini.

Dari situlah, saya mengajak kamu, relawan, untuk berselancar dalam makna eksistensi hutan sebenarnya, hutan sebagai kemewahan alam dalam arti lain, serta peran sukarelawan dalam menjaga ekosistem hutan tetap terjaga. Mari kita lihat makna hutan sebagai eksistensi alam.

Hutan: Pundi-Pundi Pernapasan Alam 

Hutan adalah ekosistem yang terdiri dari pepohonan, flora, dan fauna yang saling terhubung. Di dalamnya terdapat keanekaragaman flora dan fauna. Sokongan ini mencerminkan bahwa kehadiran hutan tidak hanya sekadar sebuah bioma, tetapi juga pernak-pernik kehidupan yang berkelanjutan di dalamnya. Keterkaitan ini membentuk keanekaragaman hayati yang kita rasakan hingga hari ini.

Berkesinambungan dengan keanekaragaman hutan di atas, ‘pundi pernapasan’ menjadi ungkapan yang tepat untuk menggambarkan hutan. Hutan memberikan manfaat besar bagi berbagai makhluk hidup. Contohnya adalah penyerapan emisi gas-gas yang mengandung karbon monoksida, karbon dioksida, dan masih banyak lagi. 

Kota Besar dan Pegunungan: Hutan Sama Esensialnya

Perbedaan antara pegunungan dan kota besar terasa jelas. Pegunungan menawarkan udara yang sejuk dan segar, sementara kota seperti Jakarta sering kali terasa “sumpek” akibat polusi udara.

Di sinilah peran hutan menjadi krusial. Hutan di kawasan penyangga maupun pegunungan membantu menyerap emisi karbon dan menjaga kualitas udara. Penelitian Nandi dan Jashimuddin (2025) menunjukkan bahwa hutan mampu menyerap hingga 2,13 ton emisi per hektare per tahun, termasuk hutan urban.

Artinya, hutan bukan sekadar bagian dari lanskap, melainkan penopang kehidupan. Semakin banyak pohon, semakin besar pula kontribusinya dalam menyediakan udara bersih bagi manusia.

Hutan Identik dengan Kemewahan Alam

Arba et al. (2023) menjelaskan bahwa hutan dapat melahirkan reservoir spesies serta menjadi habitat bagi flora dan fauna. Hal tersebut terlihat dari penemuan sumber obat dari vegetasi hutan. Ini juga terjadi karena pemeliharaan fungsi ekosistem yang terintegrasi secara ekologis. Itu memberikan kesejahteraan kepada elemen masyarakat.

Penelitian di atas membuktikan bahwa hutan menyediakan ruang hidup bagi makhluk hidup secara leluasa. Hutan memberikan jaminan aset pernapasan bagi tiap keanekaragaman hayatinya. Bagaimana ini terjadi? Bisa sebab hutan menyimpan sekumpulan vegetasi flora yang ‘menyemir’ tiap lapisan keberlangsungan hidup, terutama bagi masyarakat di sekitarnya.

Sisi Lain dari Kemewahan Alam Hutan

Analogi ini disamakan dengan ‘deposito’ atau ‘bank tabungan kehidupan’, seperti ‘saldo’ penuh yang ada di rekening kita. Dengan kehadiran hutan, ia berperan sebagai ‘tabungan’ berbagai bahaya gas-gas emisi, oksigen segar yang mengimbangi ’saldo,’ bahkan menghasilkan sumber daya alam lainnya. Salah satunya adalah air tanah yang bersih dan berkualitas. Inilah merupakan definisi kemewahan alam semestinya pada hutan, katanya sih

Namun, pada kenyataannya, kemewahan alam tersebut memiliki sisi lain yang tidak disangka. Seharusnya, eksistensi hutan merupakan anugerah untuk segelintir makhluk hidup yang ada. Perlahan-lahan hutan mulai kandas akibat tangan individu yang seharusnya memanfaatkan keragaman hayati tersebut, tetapi justru mempertahankannya. Akan tetapi, ia memilih untuk menyia-nyiakan manfaat hutan tersebut secara besar-besaran.

Tentu, saya juga melihat sejumlah berita di televisi serta di artikel online. Lalu, betapa mengiris hati saya ketika hutan yang seharusnya menjadi rumah bagi flora dan fauna sirna begitu saja. Di samping itu, batang pohon-pohon kokoh tersisa bagai puing-puing kecil. Sungguh, situasi tersebut sangat miris, terlebih apabila kita sama sekali tidak peka terhadap kondisi ini. Kemewahan alam ini bergeser kepada segelintir individu yang tidak memanfaatkan keindahan alam sebagai bentuk pelestarian, tetapi menghancurkannya secara perlahan-lahan.

Ini diperkuat oleh data Auriga Nusantara yang menunjukkan bahwa deforestasi di Indonesia mencapai 433,751 hektare pada 2025. Ini menjadikan salah satu perkara pelestarian hutan yang semestinya hutan pun dilestarikan, tetapi berujung pada penggundulan hutan secara massal.

Pelestarian Hutan sebagai Bubuk Hati Relawan

Di tengah isu pembalakan hutan secara liar, bencana lain pun tidak luput dari dampaknya. Sebagai contoh, pada pendahuluan, fenomena banjir juga terjadi karena lahan resapan di lereng pegunungan telah habis. Emisi gas karbon pun tidak diserap secara maksimal sehingga menimbulkan kualitas udara yang kurang.  Kombinasi tersebut terjadi hanya karena satu fenomena, yakni pembalakan liar. 

Keadaan ini memicu energi kita bersama untuk meningkatkan perhatian terhadap isu tersebut. Perhatian dapat berupa fisik maupun nonfisik. Ini kembali kepada niat mendalam kita ketika memerhatikan isu tersebut. Ini juga bukan soal siapa yang paling banyak berkontribusi secara kuantitatif, melainkan soal lubuk hati kita. 

Rumus E.R.T (Edukasi, Reboisasi, dan Tanggung Jawab) terdiri dari 3 formula unik sebagai langkah awal yang dapat dilakukan oleh relawan. Langkah ini terdiri dari segmentasi, mulai dari penerapan digital hingga langkah nyata yang dilakukan secara langsung, tangan ke tangan. Inilah penjabaran E.R.T secara lengkap:

1. Edukasi: Kampanye Bermedia Sosial, Peduli Hutan

Edukasi merupakan fondasi awal dalam membangun perhatian baik dengan sebuah isu. Kampanye #LindungiHutan dan #StopDeforestrasi menjadi salah satu kampanye untuk meningkatkan perhatian terhadap isu-isu yang terjadi di bidang kehutanan. Di samping itu, Kementerian Kehutanan telah melaksanakan kampanye digital bagi anak muda. Mengusung tema “From Scroll to Impact,” acara ini mendorong generasi muda beralih dari konsumsi konten menjadi aksi nyata untuk pelestarian hutan dan aksi iklim dengan penggunaan kecerdasan buatan yang tepat.

2. Reboisasi: Satu Pohon, Seribu Napas

Reboisasi menjadi salah satu langkah nyata untuk menjaga ekosistem hutan secara berkelanjutan. Ini berarti penanaman pohon pada daerah hutan yang telah gundul. Penanaman tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi awal hutan sebagai kawasan vegetasi yang menyimpan keanekaragaman hayati. Indorelawan pernah bekerja sama dengan Paragon Corp dalam kolaborasi acara penanaman 300 mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove Angke.

3. Tanggung Jawab: Patuhi Alam Tersirat

Salah satu artikel Profauna membahas bahwa bepergian ke daerah perhutanan membutuhkan pemahaman tentang aturan alam secara tersirat. Tiap pengunjung harus mematuhi peraturan hutan dengan tidak menyalakan api, membawa pulang sampah yang dihasilkan, dan tidak memburu satwa liar. Langkah ini membantu tiap individu sebagai dasar pelestarian hutan saat berwisata. 

Refleksi

Sampailah pada akhir cerita di sepucuk hutan. Hutan merupakan area makhluk hidup, tidak hanya menyambung hidup secara umum, tetapi juga karunia Tuhan Yang Maha Esa dalam ciptaan-Nya. Hati saya pun ikut tergerak ketika saya mengangkat isu hutan yang saat ini sedang marak.

Nilai fundamental kerelawanan juga menjadi aspek utama dalam meningkatkan kepedulian terhadap isu ini. “Bubuk relawan” menjadi ungkapan yang tepat untuk menjaga pelestarian hutan secara lebih masif. Bubuk ini berperan sebagai elemen kecil yang menyatukan aksi individu dengan dorongan kuat dari niat terdalam.

Harapannya adalah masyarakat bisa kembali memaknai bahwa ekosistem hutan memang benar-benar ada. Kehadirannya dilakukan melalui pelestarian flora dan fauna sejak dini. Saya juga terkadang mengangkat isu-isu tersebut melalui fitur repost di Instagram. Memang, itu merupakan perbuatan sederhana, tetapi akan meningkatkan perhatian audiens. 

Oleh karena itu, sayangi ekosistem sebagai agenda yang harus dimulai dari langkah kecil masyarakat. Ini bisa dilakukan dengan mengampanyekan isu dan membagikannya kepada audiens lain agar isu kehutanan dapat diketahui lebih luas. Terakhir, disiplin diri terhadap aturan publik juga menjadi kunci keberhasilan pelestarian ekosistem. 

Indorelawan hadir sebagai garda informasi kerelawanan di seluruh daerah Indonesia. Di Indorelawan, kamu tidak hanya mempelajari bagaimana berpartisipasi sebagai sukarelawan lingkungan, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem hutan yang berkelanjutan secara langsung. Informasi kerelawanan terbaru dapat diakses melalui laman Indorelawan.org karena kita #AlwaysTogether untuk #BetterTogether di tiap langkah sejak dini ini. 

Referensi

Arba, M., Sudiarto, & Yuniansari, R. (2023). Perlindungan Hutan Dan Fungsinya Bagi Kehidupan Manusia Dan Lingkungan Alam. Journal Kompilasi Hukum, 8(2). https://doi.org/10.29303/jkh.v8i2.144.

Ayuningtyas, A. D. (2026, April 1). Auriga Catat Deforestasi Hampir 80 Ribu Ha di Hutan Cadangan Pangan dan Energi. Katadata. https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/ekonomi-sirkular/69cd03a966261/auriga-catat-deforestasi-hampir-80-ribu-ha-di-hutan-cadangan-pangan-dan-energi.

Cara Mudah untuk Membantu Pelestarian Hutan Indonesia | PROFAUNA. (2015). https://www.profauna.net/id/content/cara-mudah-untuk-membantu-pelestarian-hutan-indonesia.

Dari Konten ke Aksi Nyata: Jaga Kelestarian Hutan Lewat Inovasi Digital. (2026). Kehutanan. https://www.kehutanan.go.id/news/dari-konten-ke-aksi-nyata-jaga-kelestarian-hutan-lewat-inovasi-digital.

Indonesia completes delivery of contracted emission reductions under the FCPF | Forest Carbon Partnership Facility. (2026, Januari.). https://forestcarbonpartnership.org/results-story-announcement/indonesia-completes-delivery-contracted-emission-reductions-under-fcpf.

Indorelawan. (2025, November 18). Paragonian dan Indorelawan Tanam 300 Mangrove di Jakarta Utara. Blog Indorelawan. https://blog.indorelawan.org/2025/11/14/paragonian-dan-indorelawan-tanam-300-mangrove-di-jakarta-utara/.

Gambar cover. Lestari Kompas.

Penulis: Rakha Anaqi Setyawan
Proofreader: Naila Islamia P.S 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *