Sehabis Kumpul, Tiba-tiba Ingin Berbuat Lebih untuk Orang Lain

Sehabis Kumpul, Tiba-tiba Ingin Berbuat Lebih untuk Orang Lain

Pernahkah kamu tiba-tiba ingin membantu orang lain? Setelah momen berkumpul bersama orang-orang yang kamu sayangi. Perasaan ini bukan kebetulan karena saya pun kadang merasakannya memiliki nilai tersirat di dalamnya. Di momen ini pula, hubungan personal antarindividu makin erat.

Selain itu, tahukah kamu bahwa momen ini berkaitan dengan salah satu nilai relawan? Artikel ini akan menjawab pertanyaan tentang mengapa perkumpulan bersama menjadi pemicu pembangunan nilai relawan melalui pendekatan empati berbasis aksi nyata. 

Apa Hubungan Momen Berkumpul dengan Kerelawanan?

Salah satu contoh yang bisa kita petik adalah momen silaturahmi pada Lebaran. Setelah beberapa bulan lamanya, kita masih berkesempatan mengunjungi sanak saudara, bahkan orang tua. Sekadar menyapa, menanyakan kabar, dan menceritakan hal itu berarti bagi tiap individu, yakni keluarga. 

Berdasarkan artikel Wibowo (2023), hal ini dapat memperkuat empati dan perhatian terhadap orang-orang di sekitar kita. Pertemuan antarkeluarga menjadi simbol pembangunan hubungan keluarga yang makin terikat. Keterikatan itu dapat mengembangkan solidaritas antarindividu apabila suatu saat dibutuhkan bantuan atau sekadar untuk berkunjung.

Jembatan Emosional: Mengapa Kita Butuh Terhubung?

Sebelum seseorang memutuskan untuk menjadi relawan, biasanya ada satu hal yang terjadi lebih dulu, yaitu rasa terhubung dengan orang lain. Rasa keterhubungan inilah membangkitkan jembatan emosional antarindividu yang menghasilkan perasaan sefrekuensi. Secara empiris maupun ilmiah, ada tiga peran yang membuat kita merasa terhubung secara emosional. Ketiga hal tersebut adalah kegembiraan kolektif, hormon oksitosin dan kortisol, serta modal sosial. 

1. Kegembiraan Kolektif (Collective Effervescence)

Pernah ngerasa ikut terharu di acara keluarga padahal kamu baik-baik saja? Itulah yang disebut collective effervescence. Salah satu penelitian dari laman National Library of Medicine (NLM), Pizarro et al. (2022), menjelaskan bahwa intensitas emosional bersama dan rasa kesatuan muncul ketika orang berkumpul dalam ritual, perayaan, atau demonstrasi. Momen berkumpul menjadi salah satu momen kegembiraan kolektif serta identitas diri dalam lingkungan majemuk yang kuat. 

Ini terjadi karena adanya perceived emotional synchrony (PES) antarindividu. PES menjadi salah satu senjata untuk memperkuat identitas melalui dukungan sosial. Dukungan itu dimulai dengan perkumpulan yang secara langsung merangsang emosi dan energi positif secara menular.

2. Hormon Oksitosin dan Kortisol

Hormon oksitosin dan kortisol merupakan hormon yang dimiliki pada tubuh manusia. Keduanya memiliki perbedaan signifikan. Oksitosin memicu emosi positif, termasuk rasa cinta, mulai dari diri sendiri hingga antarindividu, menurut Algoe et al. (2017). Di samping itu, kortisol, menurut Jones dan Gwenin (2020), merupakan hormon stres yang mengatur respons tubuh terhadap tekanan dengan meningkatkan energi dan kewaspadaan.

Dalam perjalanannya, hal ini berkaitan dengan momen berkumpul. Ini digambarkan sebagai media yang membuat hormon oksitosin kita ikut meningkat. Di samping itu, hormon kortisol menurun pada tahap pemulihan stres karena kita berada pada fase rehat sejenak. Ini didukung oleh artikel Morrison (2023) yang menjelaskan bahwa interaksi tatap muka dan sentuhan hangat dapat memicu pelepasan oksitosin. 

Selanjutnya, sentuhan hangat memperkuat ikatan emosional antarindividu dan membantu mengurangi kadar stres. Efeknya? Hormon kortisol merangsang tubuh kita untuk menurunkan beban kognitif dan beralih ke mode mindful. Jujur, ini juga berlaku pada momen hangat lainnya, seperti Lebaran atau sekadar hangout bareng teman. 

3. Modal Sosial (Social Capital)

Dari silaturahmi, penumbuhan modal sosial pada individu terjadi melalui interaksi tatap muka yang menyertakan salam tangan. Sentuhan ini mempererat kembali ikatan emosional antarkeluarga, bahkan antarkerabat, melalui saling memaafkan yang menghasilkan bonding yang kuat (Portes, 2024).

Kekuatan bonding akan menumbuhkan bridging pada individu. Selanjutnya, bridging berperan dalam memperluas koneksi antarindividu, bahkan antarkelompok yang sebelumnya belum saling mengenal, melalui momen berkumpul. Ini juga dapat memperkuat jaringan kolektif antarmasyarakat karena kembali ke poin pertama. Poin tersebut adalah collective effervescence pada Lebaran.

Kombinasi bonding dan bridging akan melahirkan individu yang mampu beradaptasi dan mengembangkan relasi, tanpa harus berasal dari kesamaan latar belakang. Ini berarti individu mendapatkan ‘tangki emosional’ yang lebih tinggi karena jaringan hubungan yang didasari oleh kepercayaan dan norma timbal balik. Hal tersebut juga membantu individu mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal secara tidak langsung melalui pembelajaran tentang kepercayaan diri. 

Misalnya, kamu ketemu sepupu yang aktif di komunitas sosial saat reuni keluarga, lalu kamu ikut bergabung. Itulah bridging yang terjadi secara alami dari momen berkumpul. Perkumpulan itu menemukan kesamaan minat dan akhirnya terhubung. Ini merupakan bentuk bonding.

Bagaimana Keterhubungan Peran Emosional itu Terjadi?

Singkat cerita, saya juga mengalami ketiga aspek di atas, terutama saat berkumpul dengan teman lama. Libur semester menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Dari sini, saya merasakan kegembiraan kolektif yang dirasakan oleh seluruh teman saya dalam suasana hangat. 

Saya merasa bahwa hormon oksitosin saya meningkat karena interaksi antarmanusia tidak hanya sekadar basa-basi, tetapi juga karena rasa rindu pada seseorang. Hormon tersebut juga membantu menurunkan kadar kortisol saya dan membuat saya merasa lebih mindful. Penumbuhan modal sosial dirasakan melalui pertahanan bridging dari bonding yang sudah lama.

Bagaimana Menerapkan Nilai ini pada Relawan?

Dari sejumlah relevansi dan ilustrasi di atas, kita dapat dengan mudah menerapkan nilai-nilai berkumpul bersama yang berfokus pada empati terhadap para relawan. Nilai tersebut dapat dikembangkan mulai dari konsep social capital hingga berdamai dengan diri sendiri. Selengkapnya bisa langsung scroll ke bawah:

1. Silaturahmi Ajang Social Capital

Menurut VanderWeele, T. J. (2022), silaturahmi Lebaran antarkeluarga dapat menjadi modal sosial. Ini bermula dari pertemuan hangat untuk menanyakan kabar antaranggota, kemudian menanamkan nilai empati dengan mendengarkan tiap cerita dalam keluarga tersebut. 

Pertemuan dapat menjadi modal untuk mengembangkan nilai-nilai sosial yang berfokus pada kesejahteraan. Semisal, silaturahmi menghasilkan peningkatan kesejahteraan mental kolektif dalam keluarga, kemudian berkembang menjadi nilai gotong royong sehingga hubungan tetap terjaga.

2. Saling Memaafkan sebagai Reset Emosi

Lebaran merupakan momen yang tidak hanya sekadar berkumpul bersama keluarga, tetapi juga tentang bagaimana kita memaafkan perlakuan orang lain. Ini sesuai dengan penelitian Gao et al. (2021) yang menyatakan bahwa memaafkan kesalahan rekan kerja merupakan bentuk emotional reset yang krusial untuk memulihkan kondisi psikologis karyawan setelah terjadinya konflik atau pelanggaran interpersonal. 

Dengan memaafkan, individu mampu melepaskan emosi negatif yang kemudian digantikan oleh pemulihan emosi positif dan keseimbangan batin. Keseimbangan inilah yang diperlukan ketika menjadi relawan sehingga kita dapat menjalaninya dengan sukacita tanpa tekanan berlebihan.

Refleksi

Ketika Lebaran berakhir dan saya melambaikan tangan kepada sanak saudara, saya membawa pulang ‘tangki emosional’ yang terisi penuh. Di tengah hiruk-pikuk tawa keluarga dan kehangatan sentuhan, saya tidak hanya rehat sejenak, tetapi juga benar-benar terhubung. Saya menyadari bahwa kebahagiaan kolektif dan gelombang oksitosin yang saya rasakan saat bersilaturahmi adalah energi pendorong, sebuah pengingat kuat bahwa terhubung dengan hati adalah fondasi segalanya. 

Dari sana, saya melihat Lebaran sebagai pelajaran nyata tentang empati. Nilai ini, yang membuat kita peduli pada sanak saudara, seharusnya tidak berhenti di ambang pintu rumah. Ia harus melebur dan mengalir keluar, menjadi aset utama saat kita memutuskan untuk hadir dan berdampak dalam kegiatan kemanusiaan. Sekarang, dengan semangat baru ini, rasanya tidak ada alasan untuk tidak bergerak menuju aksi nyata!

Kalau kamu ingin mulai tapi tidak tahu dari mana, ada banyak pintu masuk yang bisa kamu coba. Indorelawan hadir sebagai garda informasi kerelawanan di seluruh daerah Indonesia. Di Indorelawan, kamu tidak hanya mempelajari bagaimana berpartisipasi sebagai relawan, tetapi juga membangun hubungan baik antarrelawan melalui pendekatan nilai sosial dan empati. Informasi kerelawanan terbaru dapat diakses melalui laman Indorelawan.org karena kita #AlwaysTogether untuk #BetterTogether di setiap langkah sejak dini. 

Referensi

Algoe, S. B., Kurtz, L. E., & Grewen, K. (2017). Oxytocin and social bonds: The role of oxytocin in perceptions of romantic partners’ bonding behavior. Psychological Science, 28(12), 1763–1772. https://doi.org/10.1177/0956797617716922.

Gao, F., Li, Y., & Bai, X. (2021). Forgiveness and subjective well-being: A meta-analysis review. Personality and Individual Differences, 186, 111350. https://doi.org/10.1016/j.paid.2021.111350.

Jones, C., & Gwenin, C. (2020). Cortisol level dysregulation and its prevalence—Is it nature’s alarm clock? Physiological Reports, 8(24), e14644. https://doi.org/10.14814/phy2.14644.

Morrison, I. (2023). Touching to connect, explore, and explain: how the human brain makes social touch meaningful. The Senses and Society, 18(2), 92–109. https://doi.org/10.1080/17458927.2023.2200065.

Pizarro, J. J., Zumeta, L. N., Bouchat, P., Włodarczyk, A., Rimé, B., Basabe, N., Amutio, A., & Páez, D. (2022). Emotional processes, collective behavior, and social movements: A meta-analytic review of collective effervescence outcomes during collective gatherings and demonstrations. Frontiers in psychology, 13, 974683. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.974683.

Portes, A. (2024). SOCIAL CAPITAL: Its origins and applications in modern sociology (pp. 53–76). https://doi.org/10.4324/9781003572923-6.

The virtues in psychiatric practice. (2021). https://doi.org/10.1093/med/9780197524480.001.0001.

VanderWeele, T. J. (2022). The science of human flourishing. In J. R. Peteet (Ed.), The virtues in psychiatric practice (pp. 18). Oxford University Press.

Wibowo, A. A. (2023). Altruisme dalam Membangun Solidaritas Sosial di Komunitas Relawan. Journal Socius Journal of Sociology Research and Education, 10(1), 31–40. https://doi.org/10.24036/scs.v10i1.450.

Gambar cover. Relawan Belajaraya Jakarta 2026. 

Penulis: Rakha Anaqi Setyawan
Proofreader: Naila Islamia P.S & Renita Yulistiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *