Setiap Oktober, kita kembali mengingat Sumpah Pemuda sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa bukan sekadar catatan sejarah. Di dalamnya, ada semangat untuk melampaui perbedaan, menemukan tujuan bersama, dan bergerak sebagai satu kesatuan.
Namun, bagaimana semangat itu kita praktikkan hari ini?
Di tengah dunia yang semakin kompetitif dan mendorong setiap orang untuk terus meningkatkan pencapaian pribadi, ada ruang-ruang sederhana yang mengajarkan kita untuk bertumbuh bersama. Ruang tempat orang-orang dengan latar belakang berbeda belajar mendengarkan, mengambil tanggung jawab, menghadapi persoalan, dan mencari jalan keluar secara kolektif.
Ruang Itu Bernama Komunitas
Di banyak organisasi sosial, proses belajar tidak pernah benar-benar selesai. Setiap program, pertemuan, dan persoalan yang dihadapi bersama menjadi kesempatan untuk melihat kembali cara organisasi bekerja dan bagaimana orang-orang di dalamnya bertumbuh.
Sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil (OMS) pembelajar dalam program Indorelawan: Temu dan Pahami (TEMPA), KAREKA Sumba melalui pendirinya, Ronald Asto, membawa pengalaman tersebut ke dalam tulisan ini. Pengalaman mendampingi masyarakat dan mengembangkan komunitas berbasis relawan menjadi titik berangkat untuk merefleksikan satu hal: bagaimana pengalaman di ruang komunitas membentuk keterampilan dan kepemimpinan yang tidak selalu kita dapatkan di bangku pendidikan formal.
Sebab, ada hal-hal yang mungkin tidak tertulis dalam dokumen pendidikan, tetapi justru kita pelajari ketika terlibat, mengambil tanggung jawab, dan bekerja bersama orang lain. Melalui tulisan ini, kita diajak melihat kembali nilai belajar dari keterlibatan dalam komunitas, terutama ketika pengalaman tersebut dijalani bersama orang lain dan untuk tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.

Ketika Gelar Tidak Lagi Cukup Berbicara
Kita hidup di zaman yang sangat menghormati kertas. Ijazah, sertifikasi, dan daftar pencapaian akademik menjadi semacam tiket menuju ruang-ruang yang dianggap bergengsi, meja wawancara yang panjang, hingga jabatan yang terasa menjanjikan.
Ada logika yang masuk akal di balik semua itu. Pendidikan dan sertifikasi memang dapat membuka banyak kesempatan. Namun, ada juga paradoks yang terlalu lama kita abaikan.
Data berbicara lebih keras dari dugaan kita. Hampir 60 persen manajer yang baru pertama kali memimpin mengaku tidak pernah mendapatkan pelatihan apa pun ketika naik ke posisi tersebut. Tiga perempat program pengembangan kepemimpinan di seluruh dunia dinilai oleh organisasi yang menjalankannya sebagai program yang tidak terlalu efektif. Ini bukan sekadar cerita dari negara berkembang, melainkan juga tantangan di negara-negara yang menginvestasikan dana besar untuk mengembangkan pemimpin.
Artinya, gelar dan pelatihan memang dapat membuka pintu, tetapi pengalaman nyata tetap dibutuhkan untuk memahami apa yang harus dilakukan setelah pintu itu terbuka. Gelar memang membuka pintu. Namun, setelah berada di dalam ruangan, ternyata tidak semua orang tahu harus berbuat apa.
Banyak orang dengan gelar tinggi gagap ketika diminta memimpin rapat yang memanas. Bingung saat harus meyakinkan warga yang tidak percaya. Atau kehilangan arah ketika program yang sudah disusun rapi justru ditolak oleh komunitas yang seharusnya menjadi penerimanya.
Sebaliknya, tidak sedikit anak muda tanpa gelar mentereng yang mampu menggerakkan banyak orang, mengelola krisis dengan kepala dingin, dan menyulap keterbatasan menjadi inovasi. Salah satu hal yang mungkin membedakan mereka adalah pengalaman terlibat dalam komunitas.
Pengalaman seperti itu bukan sesuatu yang asing bagi organisasi sosial berbasis relawan. Di dalamnya, orang-orang belajar bukan hanya untuk menyelesaikan kegiatan, tetapi juga untuk memahami kebutuhan masyarakat, bekerja bersama orang dengan latar belakang berbeda, dan menemukan cara agar tujuan bersama dapat terus berjalan.
Di sinilah semangat kebersamaan menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari. Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki kemampuan, pendapat, atau cara kerja yang sama. Persatuan justru membutuhkan kesediaan untuk memahami perbedaan dan menemukan cara untuk bergerak bersama.
Bagi KAREKA Sumba, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung dalam keseharian. Bukan sekadar bagaimana sebuah program dijalankan, melainkan bagaimana orang-orang di dalamnya bertumbuh melalui proses tersebut.
Sekolah Tanpa Dinding, Kurikulum Tanpa Nama
Komunitas adalah sekolah yang tidak memiliki dinding, tidak menerbitkan ijazah, dan tidak memungut biaya kuliah. Justru di situlah letak kekuatannya.
Kurikulumnya tidak tertulis di mana pun. Di sana, seseorang belajar berbicara di depan umum bukan hanya dari buku teks, melainkan karena harus membuka rapat dengan puluhan orang yang mulai gelisah dan tidak sabar. Ia belajar menyusun anggaran bukan hanya dari kelas manajemen keuangan, melainkan karena kas yang hampir habis sementara kegiatan tidak boleh berhenti.
Ia belajar mengelola konflik bukan sekadar dari modul pelatihan, melainkan ketika dua anggota terbaik tiba-tiba berseteru dan tidak satu pun mau mengalah.
Tidak ada simulasi yang sepenuhnya dapat menggantikan pengalaman tersebut. Tidak selalu ada nilai yang diberikan. Dan tidak semua persoalan memiliki jawaban yang langsung ditemukan.
Penelitian akademik turut menjelaskan pentingnya pengalaman belajar semacam ini. Kajian Kuh (2008) serta Pascarella dan Terenzini (2005) membahas bagaimana keterlibatan aktif dalam organisasi dan pengalaman selama pendidikan tinggi dapat mendukung perkembangan mahasiswa, termasuk dalam hal komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan kemampuan menghadapi persoalan kompleks.
Pelajaran seperti itu tidak selalu diperoleh dari ruang kelas. Sebagian tumbuh ketika seseorang bersedia terlibat, mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar memperbaiki keadaan bersama orang lain.
Komunitas pun menjadi ruang perjumpaan. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat bertemu karena memiliki kepedulian yang sama. Mereka mungkin berbeda usia, latar belakang pendidikan, kemampuan, maupun pandangan. Namun, ketika ada tujuan bersama yang ingin diwujudkan, perbedaan tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran.
Dalam konteks Sumpah Pemuda, pengalaman ini mengingatkan kita bahwa persatuan bukan hanya tentang mengakui identitas yang sama. Persatuan juga tentang kesediaan untuk membangun sesuatu bersama, bahkan ketika kita datang dari latar belakang yang berbeda.
Yang Tidak Diajarkan di Bangku Kuliah
Berbagai pilihan pengembangan diri kini tersedia bagi generasi muda. Mereka dapat mengikuti magang, mengambil sertifikasi digital, membangun portofolio, atau mengikuti pelatihan yang menjanjikan keterampilan tertentu.
Pilihan-pilihan tersebut masuk akal. Biaya hidup meningkat, persaingan kerja semakin ketat, dan pasar kerja membutuhkan bukti kemampuan yang dapat ditunjukkan.
Namun, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan.
Survei Deloitte 2025 yang melibatkan lebih dari 23.000 anak muda dari 44 negara menemukan bahwa 89 persen Gen Z dan 92 persen Milenial menganggap rasa memiliki tujuan sebagai hal yang sangat penting bagi kepuasan kerja mereka.
Temuan ini memperlihatkan bahwa bagi banyak anak muda, pencapaian bukan satu-satunya hal yang dicari. Mereka juga ingin menemukan makna, merasa bahwa apa yang dilakukan memiliki tujuan, dan melihat hubungan antara pekerjaan dengan kehidupan yang lebih besar dari diri sendiri.
Komunitas dapat menjadi salah satu ruang untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Seorang anak muda yang menghabiskan tiga tahun aktif di organisasi sosial tidak sekadar menambah baris di CV. Ia sedang belajar apa artinya bertanggung jawab kepada orang lain, termasuk ketika tidak ada insentif finansial yang menyertai setiap prosesnya.
Ia belajar menggerakkan orang tanpa otoritas formal. Ia belajar bahwa kepercayaan bisa runtuh hanya karena satu keputusan yang salah, dan bahwa membangunnya kembali membutuhkan waktu serta usaha yang tidak sedikit.
Ia juga belajar bahwa keberhasilan sebuah program bukan hanya tentang seberapa baik kegiatan terlaksana, tetapi juga tentang apakah kebutuhan masyarakat benar-benar dipahami dan apakah orang-orang yang terlibat merasa menjadi bagian dari prosesnya.
Pelajaran-pelajaran itu tidak selalu tertulis dalam kurikulum pendidikan formal. Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal berharga bagi kehidupan pribadi, profesional, maupun sosial.
Tentu, setiap orang memiliki prioritas dan keterbatasan masing-masing. Keterlibatan dalam komunitas bukan satu-satunya jalan untuk bertumbuh. Namun, ketika ruang belajar yang sehat dan bermakna tersedia, komunitas dapat menjadi tempat bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memahami tanggung jawabnya terhadap orang lain.
Keterampilan yang Tidak Bisa Digantikan Mesin
Dunia kerja sedang bergerak ke arah yang, dengan ironi tersendiri, justru mengembalikan perhatian kita pada nilai-nilai paling manusiawi.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan kepemimpinan dan pengaruh sosial sebagai salah satu keterampilan inti yang penting bagi dunia kerja hingga 2030. Laporan yang sama memperkirakan bahwa sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan mengalami perubahan atau menjadi kurang relevan pada periode 2025–2030.
Di tengah perubahan teknologi yang cepat, kemampuan teknis tetap penting. Namun, kemampuan untuk terus belajar, berpikir kreatif, memahami orang lain, berkolaborasi, dan memimpin juga semakin dibutuhkan.
Semakin banyak hal yang dapat dikerjakan mesin, semakin penting pula kemampuan manusia untuk memahami konteks, membangun hubungan, dan bekerja bersama menghadapi persoalan yang kompleks.
Tidak ada jalan pintas untuk membangun empati. Tidak ada sertifikasi yang secara otomatis membuat seseorang mampu memahami pengalaman orang lain. Dan tidak ada modul yang dapat menjamin seseorang selalu tahu cara menggerakkan orang yang sedang kehilangan semangat.
Pengetahuan dan pelatihan tetap memiliki peran penting. Namun, keduanya perlu bertemu dengan pengalaman nyata agar dapat diterapkan secara bermakna.
Komunitas menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan keduanya. Di sana, seseorang dapat belajar mengenali kebutuhan masyarakat, menguji gagasan, menerima umpan balik, dan memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil.
Ruang belajar seperti ini juga membuka kesempatan bagi lebih banyak anak muda untuk berkontribusi. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas, pelatihan berbayar, atau jaringan profesional. Komunitas yang terbuka dan inklusif dapat menyediakan ruang untuk belajar melalui keterlibatan dan kerja bersama.
Pada akhirnya, yang membuat pengalaman komunitas berharga bukan karena semua orang di dalamnya selalu berhasil, melainkan karena mereka memiliki kesempatan untuk mencoba, belajar, dan memperbaiki diri bersama.
Kepemimpinan yang Lahir dari Kepercayaan, Bukan Jabatan
Di tengah arus individualisme yang semakin kuat, komunitas menjadi salah satu ruang tempat orang belajar bahwa keberhasilan bersama tidak selalu dapat diukur dari kemenangan pribadi.
Relawan tidak semata-mata bekerja karena kontrak atau insentif. Banyak dari mereka hadir karena percaya ada persoalan yang perlu dihadapi bersama dan ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.
Dari keyakinan sederhana itulah tumbuh kemampuan yang penting dalam kehidupan sosial: memimpin dengan membangun kepercayaan.
Bukan memimpin hanya karena jabatan, melainkan karena kepercayaan. Bukan mengarahkan semata-mata karena otoritas, melainkan melalui keteladanan dan kesediaan untuk ikut bekerja.
Nilai ini bukan sekadar indah untuk dikutip. Kepercayaan juga memiliki arti penting dalam keberlangsungan sebuah organisasi.
Survei Kepercayaan PwC 2024 yang melibatkan lebih dari 5.000 responden di Amerika Serikat mencatat bahwa 93 persen eksekutif bisnis meyakini kemampuan membangun kepercayaan berkaitan langsung dengan peningkatan kinerja organisasi. Survei tersebut juga menemukan hubungan antara kepercayaan konsumen dan kecenderungan mereka merekomendasikan atau membeli lebih banyak dari organisasi yang dipercaya.
Meskipun temuan tersebut berasal dari konteks bisnis di Amerika Serikat, ada pelajaran yang relevan untuk organisasi sosial: kepercayaan merupakan bagian penting dari hubungan yang dibangun bersama para pemangku kepentingan.
Dalam komunitas, kepercayaan tidak muncul hanya karena seseorang memiliki jabatan atau mampu berbicara dengan meyakinkan. Kepercayaan tumbuh melalui konsistensi, keterbukaan, kesediaan mendengarkan, dan tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.
Seorang relawan yang belajar memegang komitmen, seorang koordinator yang mau mendengarkan anggota timnya, atau sebuah organisasi yang terbuka terhadap evaluasi sedang membangun fondasi yang sama.
Gotong royong juga tidak berarti semua orang harus mengerjakan hal yang sama. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan dan kapasitasnya. Yang terpenting adalah bagaimana peran-peran tersebut saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan begitu, komunitas bukan hanya tempat seseorang belajar memimpin. Ia juga menjadi tempat untuk belajar dipimpin, menerima masukan, menghargai kontribusi orang lain, dan menyadari bahwa keberhasilan bersama tidak pernah sepenuhnya menjadi hasil kerja satu orang.

Tempat Belajar Paling Berharga Itu Bernama Ketidaksempurnaan
Tidak semua komunitas merupakan ruang yang sehat dan produktif. Kita perlu jujur soal ini.
Ada komunitas yang lebih banyak menghabiskan energi untuk konflik internal daripada menghasilkan dampak. Ada yang terjebak dalam hierarki tidak sehat, senioritas yang mengintimidasi, atau program yang berulang-ulang tanpa makna. Ada pula yang justru mempersempit cakrawala anggotanya alih-alih membukanya.
Karena itu, keterlibatan dalam komunitas tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Proses belajar membutuhkan ruang yang aman, kemauan untuk mengevaluasi diri, serta kesediaan untuk memperbaiki cara kerja ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, di sinilah salah satu pelajaran pentingnya: pertumbuhan tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang nyaman.
Konflik dapat mengajarkan kita tentang komunikasi. Kegagalan dapat memperlihatkan kelemahan dalam perencanaan. Perbedaan pendapat dapat membantu kita memahami perspektif yang sebelumnya tidak pernah dipertimbangkan.
Semua itu tentu hanya menjadi pembelajaran apabila diikuti dengan refleksi dan perbaikan, bukan ketika masalah terus dibiarkan atau perilaku yang merugikan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Menghadapi persoalan dalam komunitas dan berupaya memperbaikinya dapat menjadi pengalaman kepemimpinan yang berharga. Namun, memperbaiki komunitas juga berarti mengetahui kapan sebuah persoalan membutuhkan perubahan mendasar, batasan yang lebih sehat, atau dukungan dari pihak lain.
Komunitas yang terus bertumbuh bukanlah komunitas yang tidak pernah mengalami masalah. Ia adalah komunitas yang bersedia belajar dari masalah tersebut, memperbaiki cara kerja, dan memastikan bahwa tujuan bersama tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan orang-orang di dalamnya.
Di tengah keberagaman, proses ini menjadi semakin penting. Kita tidak harus selalu sepakat untuk tetap bekerja bersama. Namun, kita perlu memiliki cara untuk mengelola perbedaan secara sehat dan menjaga agar setiap orang tetap dihargai.
Dari Ruang Komunitas ke Ruang Kepemimpinan
Sejarah perjalanan bangsa Indonesia mengingatkan kita bahwa perubahan besar membutuhkan keterlibatan banyak orang. Semangat Sumpah Pemuda pada 1928 menjadi salah satu pengingat bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi anak-anak muda pada masa itu untuk membangun cita-cita bersama tentang Indonesia.
Semangat tersebut dapat terus dimaknai dalam konteks kehidupan hari ini, termasuk melalui ruang-ruang komunitas.
Di komunitas, anak muda belajar memahami persoalan bukan hanya dari laporan atau angka, tetapi juga melalui percakapan dengan masyarakat, pengalaman mendampingi kegiatan, dan keterlibatan langsung dalam mencari solusi.
Mereka belajar bahwa sebuah program yang terlihat baik di atas kertas belum tentu menjawab kebutuhan di lapangan. Mereka belajar bahwa mendengarkan masyarakat sama pentingnya dengan menyusun rencana. Dan mereka belajar bahwa perubahan membutuhkan kesabaran, konsistensi, serta kesediaan untuk bekerja bersama orang lain.
Komunitas tidak memberikan ijazah. Ia tidak menjanjikan karier yang mulus atau jabatan yang mengilap. Namun, dari ruang-ruang sederhana itulah seseorang dapat belajar tentang arti tanggung jawab yang sesungguhnya, tentang pengabdian yang tidak selalu membutuhkan tepuk tangan, dan tentang keberanian untuk tetap hadir bahkan ketika tidak ada yang memperhatikan.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa ini, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: sudahkah kita memberikan ruang yang cukup bagi generasi muda untuk belajar bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang tanggung jawab bersama masyarakat dalam kehidupan nyata?
Mungkin tidak semua anggota komunitas kelak menjadi pejabat, direktur, atau tokoh publik. Namun, bangsa ini akan selalu membutuhkan warga yang peduli dan pemimpin yang memahami masyarakat. Dan sering kali, proses menjadi keduanya dimulai dari ruang-ruang komunitas yang sederhana.
Pada akhirnya, belajar dari komunitas bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjadi pemimpin. Ia juga tentang bagaimana sebuah organisasi terus bertumbuh, memperbaiki cara kerja, dan menjaga agar tujuan sosialnya tetap hidup.
Pengalaman KAREKA Sumba dalam mengembangkan komunitas berbasis relawan menjadi salah satu pengingat bahwa pembelajaran dapat tumbuh dari praktik sehari-hari. Melalui TEMPA, pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan yang disimpan di dalam organisasi, tetapi menjadi bagian dari proses berbagi dan belajar bersama OMS lain.
Di sinilah ruang belajar seperti TEMPA menjadi berarti. Bukan karena semua organisasi datang dengan jawaban yang sama, melainkan karena masing-masing membawa pengalaman, tantangan, dan cara pandang yang dapat saling memperkaya.
Bagi Indorelawan, pembelajaran semacam ini merupakan bagian dari upaya memperkuat organisasi sosial dan ekosistem kerelawanan. Sebab, ketika organisasi memiliki ruang untuk belajar dan berkembang, semakin banyak pula kesempatan bagi niat baik untuk diwujudkan menjadi aksi baik yang berkelanjutan.
Semangat Sumpah Pemuda tidak harus berhenti sebagai peringatan tahunan. Ia dapat terus hidup ketika anak muda bersedia membuka diri terhadap perbedaan, ketika komunitas memberi ruang bagi setiap orang untuk berkontribusi, dan ketika relawan memilih untuk bergerak bersama demi tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.
Kita mungkin tidak memiliki pengalaman yang sama. Kita mungkin datang dengan kemampuan, latar belakang, dan cara pandang yang berbeda. Namun, melalui komunitas, kita dapat belajar menemukan tujuan bersama, saling menguatkan, dan mengambil bagian dalam perubahan.
Karena komunitas bukan hanya tempat kita berkumpul. Ia adalah sekolah kehidupan tempat kita belajar menjadi manusia yang lebih peduli, relawan yang terus bertumbuh, dan bagian dari masyarakat yang mau bergerak bersama.
Dan mungkin, di sanalah semangat persatuan menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan hanya dalam ikrar yang diucapkan bersama, tetapi juga dalam tindakan yang kita upayakan bersama.
Referensi
1. Kepemimpinan dan Pelatihan Manajer Baru
Center for Creative Leadership & Wharton Executive Education. (2024). Managing to Fail? Why New Leaders Need Training. Wharton School, University of Pennsylvania.
High5 Test. (2025). 25+ Leadership Training and Development Statistics (2024–2025).
2. Keterlibatan Mahasiswa dalam Organisasi dan Pengembangan Kepemimpinan
Kuh, G. D. (2008). High-Impact Educational Practices: What They Are, Who Has Access to Them, and Why They Matter. Washington, DC: Association of American Colleges and Universities (AAC&U).
https://navigate.utah.edu/_resources/documents/hips-kuh-2008.pdf
Pascarella, E. T., & Terenzini, P. T. (2005). How College Affects Students: A Third Decade of Research. San Francisco: Jossey-Bass.
https://eric.ed.gov/?id=ED498537
3. Generasi Muda, Tujuan Kerja, dan Kepuasan
Deloitte. (2025). 2025 Global Gen Z and Millennial Survey: Living and Working with Purpose in a Transforming World. Edisi ke-14, survei melibatkan 23.482 responden dari 44 negara.
Deloitte. (2024). 2024 Global Gen Z and Millennial Survey. Edisi ke-13.
4. Masa Depan Pekerjaan dan Keterampilan yang Dibutuhkan
World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum.
https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/digest
5. Kepercayaan Publik dan Peran Organisasi
PwC. (2024). 2024 Trust Survey. PricewaterhouseCoopers.
https://www.pwc.com/us/en/library/trust-in-business-survey.html
Tulisan ini lahir dari pengalaman dan pembelajaran penulis selama terlibat dalam pengembangan komunitas sosial berbasis relawan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sebagai pegiat sosial di KAREKA Sumba, penulis meyakini bahwa komunitas tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga sekolah kehidupan yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
Penulis: Ronald Asto
Penyunting: Renita Yulistiana