Bulan Agustus lekat dengan Hari Kemerdekaan. Gegap gempitanya masih terasa hingga kini, namun masih menyisakan beberapa tantangan yang perlu dihadapi bersama. Salah satunya, rendahnya kemampuan literasi digital. Perkembangan informasi yang begitu cepat tidak hanya membawa beragamnya informasi yang disajikan, tapi juga membawa tantangan bahaya informasi palsu dan konten provokatif. Oleh karena itu, literasi digital menjadi modal penting agar masyarakat mampu memilah informasi dengan kritis dan bisa melawan penyebaran berita palsu yang tumbuh subur di Indonesia.
Pada sepanjang tahun 2024 saja, Kementerian Komunikasi dan Digital berhasil mengidentifikasi 1.923 informasi palsu yang beredar. Dengan demikian, bisa dibayangkan bahwa kemungkinan masih ada sejumlah berita palsu yang belum teridentifikasi. Masalah ini tentu saja akan menimbulkan efek buruk pada sisi psikologi masyarakat dan bahkan memicu perpecahan sosial.
Keresahan ini juga dirasakan oleh Tion Hermawan, seorang relawan yang bergabung di dalam Lens Community atau dikenal juga dengan Lentera Aksara yang ditemukannya lewat website Indorelawan. Sebuah komunitas yang berfokus pada isu sosial, budaya, dan perkembangan literasi. Tion, sebagai salah satu generasi muda, resah melihat di sekelilingnya terkecoh oleh disinformasi yang berkembang di media sosial. Dia awalnya sempat menyuarakan beberapa keresahan di akun pribadinya. Namun, kemudian sadar butuh suatu komunitas agar bisa menyuarakan keresahannya dengan cara yang lebih terstruktur, menjangkau lebih banyak audiens, dan juga bisa menemukan teman-teman yang memiliki keresahan yang sama.
Pengalaman Pertama di Dunia Relawan
Perkenalan Tion dengan Lens Community merupakan pengalaman pertamanya di dunia kerelawanan. Sebagai relawan baru, dia sempat berpikir bahwa menjadi seorang relawan harus terjun ke lapangan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kesempatan bergabung dengan Lens Community membawa pandangan baru baginya. Dia sadar ruang digital bisa dimaksimalkan untuk bertemu dengan orang yang memiliki keresahan yang sama dan membuat projek kerelawanan yang berdampak. Ditambah lagi, dia bergabung dalam divisi bisnis development yang cukup bertolak belakang dengan latar belakangnya sebagai seorang mahasiswa sistem informasi. Meskipun begitu, Tion cukup menikmati perannya tersebut karena bisa mempelajari hal-hal baru.
Di divisi bisnis development, Tion berkesempatan merancang strategi pendanaan untuk komunitas bersama dengan teman-teman. Dengan membuat berbagai macam merchandise seperti stiker, gantungan kunci, hingga botol minum yang sekaligus menyebarkan kampanye literasi pada produk tersebut. Projek ini tidak hanya sebagai sarana branding dan memperluas kampanye sosial terkait isu literasi, tapi juga sarana kemandirian finansial untuk keberlanjutan komunitas. Ini membuatnya bisa belajar hal baru yang selama ini tidak pernah dibayangkan sebelumnya yaitu menggabungkan kampanye sosial dengan strategi pendanaan berkelanjutan. Dari pengalaman tersebut, dia menjadi sadar bahwa pengelolaan sumber daya yang cerdas sangat mempengaruhi kelanjutan komunitas karena dengan strategi yang tepat akan membawa manfaat yang besar.
Selain itu, Tion mengidentifikasi dirinya sebagai orang yang senang bereksplorasi. Dia merasa nyaman di Lens Community yang memberikan kebebasan berinovasi yang cukup luas. Dia bisa mendapat pengalaman lintas disiplin yang memberinya peran yang dinamis dan tidak monoton. Sehingga, dia tidak hanya berpaku pada hal tertentu saja tapi bisa mencoba hal-hal lintas disiplin. Misalnya dengan membuat website lomba puisi dan merancang strategi bisnis merchandise.
Pelajaran Berharga Tion di Lens Community

Setelah 5 bulan bergabung dalam dunia relawan, ada beberapa hal yang dipelajari oleh Tion. Dia sadar bahwa niat baik saja tidak cukup, dibutuhkan strategi yang berkelanjutan dalam isu literasi digital. Hal ini dari bagaimana dia melihat beberapa projek sosial sudah bagus, namun hanya berjalan beberapa kali kemudian cepat padam. Dia merasa penting untuk tetap menjaga suara dan sistem yang bagus agar kampanye sosial yang ingin dibawa tidak terhenti begitu saja. Dengan pemikiran ini, dia yakin bahwa sebuah projek sosial tidak hanya memantapkan proses perencanaan dan implementasinya, tapi juga mengukur dampak setelah acara berlangsung dan menjaga semangat tersebut terus ada.
Tion juga berharap lebih banyak generasi muda yang peduli dengan isu-isu sosial yang ada di sekitarnya. Dalam kondisi yang tidak begitu ideal, dia merasa kita tidak bisa hanya mengkritik sistem. Namun, juga harus bisa peduli dan menawarkan solusi terhadap keresahan tersebut. Dia yakin keahlian yang mungkin dianggap sepele atau tidak begitu diperhitungkan bisa memiliki dampak besar jika dilakukan secara serentak dan terstruktur.
Ini seperti yang dirasakannya ketika membuat website lomba puisi yang diadakan oleh Lens Community. Dia awalnya menganggap tugas membuat website merupakan hal yang biasa, namun kemudian sadar bahwa platform digital yang dibuatnya membawa dampak besar yang tidak pernah disangkanya. Hasil inovasi tersebut bisa menjadi tempat berkumpulnya berbagai gagasan dari seluruh Indonesia dan melewati hambatan ruang fisik.
Dengan semakin banyak yang peduli, khususnya pada isu literasi digital, Tion yakin ini akan membuat ekosistem digital di Indonesia akan semakin baik. Meskipun dia sendiri tidak begitu yakin berita hoaks dan informasi palsu bisa hilang sepenuhnya, namun dengan semakin banyak yang peduli setidaknya akan semakin banyak konten positif di ruang digital. Hal ini juga akan berdampak pada meningkatnya sikap kritis masyarakat terhadap suatu informasi sehingga tidak langsung menelannya mentah-mentah tanpa bisa memilah apakah informasi tersebut benar atau palsu.
Pesan dan Refleksi di Bulan Kemerdekaan
Kepedulian kolektif tentu saja menjadi modal besar bagi generasi muda untuk melihat sistem yang ada sekarang tidak dengan kacamata hitam putih, tapi berusaha menyelami permasalahan dan berusaha mencari solusi apa yang bisa kita lakukan untuk mengentaskan permasalahan isu literasi digital. Besar harapan Tion di kemerdekaan Indonesia ke-81, Indonesia bisa merdeka di ruang digital.
Merdeka dari berita hoaks, merdeka dari algoritma yang memecah belah, dan merdeka dari ketidaktahuan.
Dia berharap kita bersama sebagai generasi penerus bisa menjadi arsitek peradaban digital, bukan hanya sebagai pihak yang mengonsumsi konten internet, tapi juga berperan aktif menciptakan ruang digital yang sehat. Ini tentunya tanggung jawab yang perlu dipikul bersama agar bisa menghasilkan solusi yang berkeadilan dan berdampak.
Pada akhirnya, menjadi seorang relawan tidak hanya menjadi yang paling hebat, tapi siapa yang mau belajar dan hadir untuk berupaya mengatasi isu-isu sosial yang dekat dengan masyarakat. Di bulan kemerdekaan ini, semoga kita semakin peduli dengan isu-isu sosial dan percaya bahwa kontribusi kecil akan berdampak besar. Langkah kecil yang mungkin kita anggap kecil, ternyata dapat berpengaruh dan berdampak besar jika dilakukan bersama. Ayo mulai pengalamanmu dalam dunia relawan di indorelawan.org. Ubah Niat Baik Jadi Aksi Baik Hari Ini.
Hasil wawancara bersama dengan Tion Hermawan, relawan dari Lens Community.
Penulis: Tari Masdar
Proofreader: Devia Amara