Helena, Menebar Inspirasi melalui Letters to The World!

Helena, Menebar Inspirasi melalui Letters to The World!

Di usianya yang masih 15 tahun, Helena Arnetta telah membuat buku yang sungguh menginspirasi banyak orang. Letters to The World, sebuah buku yang menceritakan kisah inspiratif anak-anak kanker di Yayasan Anyo Indonesia (YAI). YAI adalah salah satu yayasan yang membantu anak-anak dengan kanker terutama dari keluarga pra-sejahtera di Indonesia. Menyadari kompleksnya penanggulangan kanker pada anak yang tidak dapat ditangani sendiri, YAI hadir dengan visi ingin bergandengan tangan bersama hand-in-hand dengan semua pihak yang peduli untuk menolong anak-anak dengan kanker, dan misinya ingin meringankan beban keluarga mereka (sumber: yai-indonesia.org).

Siswi kelas 1 SMA Binus Simprug ini menceritakan bahwa pembuatan buku ini awalnya hanya diperuntukkan untuk tugas sekolah yang disebut sebagai personal project. Terinspirasi oleh Make A Wish Foundation, Helena yang percaya dengan hal-hal sederhana dan senang jika melihat orang lain bahagia ini, kemudian memutuskan membuat personal project yang bertema sosial. 

Awalnya Helena ingin mengajarkan anak-anak di YAI ini untuk belajar art and craft, dimana hasil karya anak-anak tersebut akan menjadi modal untuk mengabulkan apapun permintaan mereka. Akan tetapi, faktanya anak-anak di rumah Anyo memiliki jadwal harian yang berbeda-beda sehingga tidak mudah bertemu dengan mereka dan mayoritas anak-anak yang tinggal di rumah Anyo masih berusia dibawah 7 tahun.

Helena berbagi cerita ketika pertama kalinya berkunjung ke rumah Anyo, ia bertemu dengan Mega. 

“Hari itu kebetulan ulang tahun Mega, usianya 14 tahun dan dia sosok yang penuh semangat sekali, selalu tersenyum. Nah, aku sampai gak sadar kalau Mega itu adalah pasien, karena energinya begitu luar biasa, tidak seperti orang sakit. Aku sampai gak sadar juga kalau dia sudah kehilangan 1 tangannya karena kanker. Hari itu juga, aku ketemu sama Tante Sarah, salah satu pengurus di YAI, yang akhirnya menceritakan kisah Mega. Wah, aku sampai terinspirasi dan berpikir, kalau aku aja bisa sangat terinspirasi dengan kisah Mega, kenapa gak aku share aja ceritanya dan juga cerita tentang anak-anak lain. Jadi, sejak itulah aku memutuskan untuk membuat buku”.

Letters to The World, kisah anak-anak dan perjuangan mereka melawan kanker. Hasil karya Helena Arnetta Puteri. (Dok.Pribadi)

Helena memilih judul Letters to The World untuk menyimbolkan pesan-pesan yang didapat dari anak-anak penyandang kanker, walaupun mereka masih anak-anak, mereka selalu menjalani hidup dengan kebahagiaan. 

“Meskipun usia mereka masih sangat muda saat terkena kanker, tetapi anak-anak ini tetap selalu happy. Padahal mereka harus berobat ke rumah sakit, harus di kemoterapi. Hebatnya mereka juga  tahu banyak tentang penyakit mereka, tentang obat-obatan mereka. Kita jangan melihat mereka sebagai pasien, sebagai orang yang sakit, siapa sih yang mau dilihat seperti itu. Jadi ya, mereka itu adalah teman kita. Melalui project ini aku sudah menganggap mereka sebagai keluarga, dalam 1 minggu aku bisa 4 kali datang ke rumah Anyo, jadi sudah aku anggap seperti keluarga. Mama-mama di rumah Anyo juga suka cerita-cerita, dan anak-anaknya suka main sama aku, jadi ya seru dan senang terus”.

Proses pengerjaan buku ini kurang lebih 4 bulan, mulai dari melakukan wawancara, penulisan, sampai mendesain buku dikerjakannya sendiri. Setelah naik cetak di Desember 2015, Helena memulai penjualan buku dari Januari hingga Maret. 

“Bukunya sudah habis. Aku cetak 500 buku, 400 terjual. Satu buku harganya 100 Ribu Rupiah, jadi sudah terkumpul 40 Juta Rupiah, 100 sisanya aku berikan ke Anyo dan beberapa pihak yang membantu. Harapanku sih dapat publisher jadi buku ini bisa dicetak lagi”.

Hasil penjualan buku ini semuanya didonasikan untuk Yayasan Anyo Indonesia dan digunakan untuk mendukung program Gerakan 1000 Ophthalmoscope. Ophthalmoscope adalah sebuah alat untuk mendeteksi retinoblastoma (kanker yang terjadi pada daerah di belakang mata yang peka terhadap cahaya (pada retina), dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia, namun pada umumnya penyakit ini menyerang anak-anak yang berumur kurang dari 5 tahun). Gerakan ini bertujuan untuk mendistribuskan 1000 ophthalmoscope ke puskesmas-puskemas di Indonesia. Hasil penjualan buku Letters to The World digunakan untuk membeli 20 ophthalmoscope untuk 20 puskesmas di Indonesia. 

Helena Anak-anak YAI dan ibu mereka senang menghabiskan waktu di taman dekat rumah Anyo (Dok.Pribadi)

Bersama Bu Pinta, Ketua Yayasan Anyo Indonesia (YAI) saat pemberian simbolis donasi hasil penjualan buku Letters to The World (Dok.Pribadi)

Dalam buku ini, juga ada dijelaskan fakta-fakta tentang kanker pada anak, daftar rumah sakit dan penjelasan tentang gejala-gejala kanker pada anak. Helena berharap bahwa buku ini dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap kanker pada anak-anak.

“Karena aku awalnya sebelum nulis buku ini, aku tahu kalau anak-anak bisa terkena kanker, tapi gak sadar kalau isunya sebesar ini. Karena menurut data dari RS Dharmais tahun 2006, setiap tahunnya ada 4100 kasus kanker pada anak. Setiap tahunnya sekitar 100.000 anak di dunia meninggal karena kanker, dan 70% dari anak-anak itu dari negara berkembang, seperti Indonesia. Kanker pada anak itu kebanyakan berbeda dengan kanker pada orang dewasa, pada anak-anak tidak bisa dilihat penyebabnya, tidak bisa dicegah. Dari sekian ratus kanker pada anak, hanya 1 yang deteksi secara dini yaitu retinoblastoma”.

Ada hal lain yang juga berkesan ketika Helena membuat buku ini. Ia yang awalnya canggung, kini merasa social skills-nya bertambah. Banyak melakukan wawancara dan berbincang dengan Ibu Pinta membuat pikiran Helena terbuka tentang dunia kanker pada anak. Ibu Pinta juga banyak melibatkannya dalam kegiatan-kegiatan YAI selama proses pembuatan buku ini dan membuka peluang Helena untuk mempromosikan buku Letters to The World. Diundang oleh Kementerian Kesehatan Indonesia di acara peringatan Hari Kanker Sedunia pada Februari lalu dan diundang oleh acara TV Hitam Putih adalah hal-hal yang ia tidak sangka-sangka. “Kalau kita melakukan hal for the good of others, kita tidak perlu takut karena Tuhan pasti memberi jalan and eventually, good things will happen to you”.

Helena memberikan buku Letters to The World di acara Hari Kanker Sedunia dan diundang ke Hitam Putih bersama dengan Tante Pinta dan anak-anak YAI (Dok.Pribadi)


Mimpi besar Helena untuk anak-anak di YAI tidak sampai disini saja. Dari project buku ini, ia masih ingin menulis lagi kisah-kisah mereka, tapi dengan lebih mendalam. Selain itu Helena juga berencana untuk membuat buku tahunan (yearbook) yang mengumpulkan kisah singkat 170 anak-anak di YAI.

“Jadi kalau ada orang yang mau tahu tentang Anyo (YAI), bisa baca yearbook, itu sih harapan aku. Aku juga mau membuat program edukasi untuk anak-anak di Anyo, walaupun anak-anak ini tidak sekolah karena harus berobat, tetapi mereka bisa tetap belajar sesuatu yang baru dan setelah pulang ke rumahnya mereka tidak ketinggalan pelajaran dari teman-teman lainnya”.

“Buku ini bikin aku bersyukur sama hidupku, aku terinspirasi untuk jadi dokter kanker anak suatu saat nanti “

Buku ini selain ditujukan untuk anak-anak di Anyo dan orang tua mereka, Helena ingin menginspirasi para pembaca yang sedang berjuang dengan kanker, untuk menyemangati siapapun yang sedang berjuang dalam menjalani hidup dan membuka mata masyarakat untuk sadar bahwa siapa saja dapat membantu anak-anak dengan kanker. Satu yang membuat ia salut pada anak-anak ini, “mereka selalu melihat sisi terang dari kehidupan, mereka selalu semangat padahal mereka harus ke rumah sakit dan di kemoterapi dengan berbagai efeknya”.

Semoga cerita Helena dan anak-anak YAI ini dapat mengetuk hati teman-teman relawan bahwa siapapun bisa menginspirasi untuk mengubah niat baik menjadi aksi baik ☺ 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *