Penggunaan media sosial di Indonesia sudah menjadi tren dari tahun ke tahun. Dikutip dari laporan We Are Social tahun 2025, Indonesia memiliki lebih dari 180 juta pengguna media sosial aktif yang didominasi oleh generasi Z, yakni sebanyak 60%.
Hadirnya media sosial tersebutlah yang melahirkan peluang bagi masyarakat, khususnya generasi Z, untuk menambah relasi dengan siapa pun, tanpa adanya batasan media. Hal ini ditegaskan pada artikel yang berjudul The Effect of Social Media on Interpersonal Relationships: Study of Literature dengan korelasi positif perihal peran media sosial yang dapat berinteraksi dengan tiap orang, tanpa adanya struggle untuk bertemu secara tatap muka.
Di balik tumbuhnya peningkatan media sosial aktif di generasi Z, ada salah satu sisi ketika media sosial berubah menjadi mencekam karena ini memicu kehadiran fenomena loneliness epidemic atau disebut sebagai epidemi kesepian.
Fenomena tersebut lahir saat kita terlena dengan banyaknya penggunaan media sosial, tetapi di sisi lain rasanya kalau tidak ketemuan secara langsung, seperti hampa dan sisi kedekatan emosional pun ikut berkurang. Kekurangan inilah yang terkadang bisa menimbulkan komplikasi yang mengarah pada kesepian karena cara berinteraksi pun bisa menjadi canggung. Tentunya, ini menimbulkan keresahan pada kita di tengah perkembangan teknologi yang makin pesat, malah menjadi hambar rasanya.
Kesepian dari Lensa Emosional
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kesepian diartikan sebagai keadaan sunyi, kosong, dan kelengangan, sedangkan American Psychological Association (APA) mendefinisikannya sebagai ketidaknyamanan secara afektif dan kognitif dalam kondisi sepi pada individu tersebut. Singkatnya, kesepian itu diibaratkan dengan sebuah ember, tetapi tanpa air mengalir di dalamnya sehingga kosong melompong begitu saja. Kekosongan inilah yang dirasakan dalam konteks seberapa dekat kita dengan orang lain yang akan memudar seiring berjalannya waktu. Ini juga meresahkan kita yang terlalu fokus scrolling media sosial, tetapi hati malah makin kosong.
Memang, ada konteks menarik dari kesepian ini. Pastinya, kesepian masih kerap disamakan dengan kesendirian? Betul, bukan. Padahal, keduanya jelas memiliki perbedaan pandangan. Kesendirian itu merupakan situasi seorang diri, tetapi tetap menikmatinya. Beda dengan kesepian, ia membutuhkan dukungan atau sekadar bincang santai dengan orang lain sehingga ia tidak merasa terisolasi.
Bagaimana Media Sosial Menjadi Faktor Kesepian
Aslan dan Polat (2024) menyebutkan bahwa media sosial menjadi salah satu akar masalah pada fenomena kesepian di kalangan dewasa muda alias mahasiswa dari Universitas Bingöl di Turki. Ini bermula dari adanya tingkat adiksi tinggi pada frekuensi penggunaan internet sehari-hari ketika pandemi Covid-19 dan mengubah gaya hidup mahasiswa, tanpa adanya kepastian.
Ini pastinya juga terjadi karena penggunaan media sosial membuka cara pandang kita terhadap penglihatan kehidupan orang lain. Ketika orang lain sedang mengunggah pencapaian atau sekadar kehidupan pribadinya, kita secara tidak sadar terjebak dalam komparasi hidup dengan orang lain yang mengakibatkan penurunan self–esteem (F. Pikó, B. et al., 2024). Penurunan ini berakibat pada peningkatan rasa menyalahkan diri, sekaligus kesepian karena merasa tertinggal sendirian dibandingkan dengan orang lain.
Dalam jangka panjang, kesepian yang dibiarkan begitu saja akan menimbulkan masalah kesehatan tubuh secara serius. Kerusakan kognitif/demensia, peningkatan penyakit jantung, dan depresi akan menghantuinya. Tak jarang, kesepian mengakibatkan rasa ingin mengakhiri hidup. Hal tersebut diperkuat dengan data laman Pusiknas Bareskrim Polri yang menyebutkan bahwa 1.270 kasus pengakhiran hidup terjadi mulai dari Januari hingga November 2025. Ini setara dengan bahaya merokok 15 batang sehingga menaikkan tingkat kematian sampai 50–60%.
Kerelawanan: Awal Humanisme dalam Penangkalan Kesepian
Dari penjelasan di atas, kita bisa mengetahui bahwa kesepian yang luput terjadi pada tiap individu tidak terlepas dari faktor emosional. Faktor tersebut mengarah pada penurunan cara berinteraksi dengan orang lain yang minim keakraban, terutama menyangkut menjalin relasi tatap muka atau sekadar bertemu dengan sahabat. Seseorang mungkin terlihat pandai bergaul dengan berbagai individu dari aktivitas digital, tetapi kekosongan pun tidak luput darinya sehingga kedekatan emosional menjadi stagnan.
Kehadiran kegiatan relawan menjadi ruang pemulihan pada interaksi sesama individu secara tatap muka. Melalui kerelawanan, seseorang tidak hanya mengisi waktu luang dari kekosongan waktu saja, tetapi juga memahami emosi antarindividu yang dimulai dengan kerja sama tim, mendengar dua arah, dan hadir sepenuhnya. Ini memicu empati dan perasaan bahagia ketika dirinya dibutuhkan dan tidak merasa sendirian.
Salah satunya adalah Aliya yang menjalani rutinitas sebagai pegawai negeri sipil dengan ritme yang berbeda setiap hari. Ada masa ketika pekerjaannya begitu sibuk, ada hari yang terasa ringan, dan ada pula hari-hari yang justru monoton. Di tengah hiruk-pikuk itu, ia tetap menyisihkan waktu untuk menjadi relawan. Di awal, ia sempat ragu dan bimbang ketika terjun pada dunia relawan. Namun, ia membuahkan hasil dengan mengambil pelajaran dari bagaimana relawan mengubah hidupnya. Kerelawanan inilah yang menumbuhkan empati, kehadiran diri sepenuhnya, dan pelajaran hidup dari anak panti.
Relawan juga berperan dalam peningkatan hormon kebahagiaan atau helper’s high pada tiap individu. Hormon dopamin, oksitosin, dan serotonin dilepas dengan kegiatan tersebut karena hormon itulah secara alami yang menumbuhkan rasa empati terhadap orang lain dalam kerja pengelompokan dan pengumpulan sampah. Empati inilah yang lahir dari kehangatan suasana pada relawan tersebut.
Refleksi
Setelah berselancar di korelasi media sosial dengan kesepian dan pengembangan nilai relawan, kita sudah mengetahui bagaimana media sosial memiliki relevansi dengan kesepian di masyarakat muda, khususnya remaja dan dewasa muda.
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia akan terus berkembang tiap tahunnya dan platform makin variatif. Dari sinilah, fenomena kesepian muncul akibat tumpukan moral pada diri sendiri kemudian mengurangi angka kepuasan ketika melihat standar lain dari orang lain, bahkan isolasi sosial.
Relawan inilah yang hadir sebagai jembatan untuk kita-kita yang sedang merasa kosong, terutama di hati serta bingung menyalurkan kekosongan itu ke mana. Relawan dibentuk untuk saling memahami mengapa manusia tetap membutuhkan tiap dukungan secara berarti dan memberikan dampak sekecil apa pun, tetapi tetap bermanfaat bagi individu/kelompok lain.
Dengan mengikuti relawan, kita bisa meningkatkan nilai altruis ketika berpartisipasi sebagai relawan karena nilai inilah yang muncul dari keinginan diri sendiri bahwa kegiatan relawan bisa menumbuhkan sikap bahu-membahu sesama individu. Di sini, partisipasi relawan menjadi kunci untuk menumbuhkan altruisme sehingga tiap kegiatan kerelawanan pun tetap menjadi pembangunan empati yang menjadi kunci untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Tidak lupa, itu bisa menjadi jembatan pada waktu penggunaan media sosial untuk sekadar berinteraksi secara tatap muka dengan orang lain.
Indorelawan hadir sebagai garda informasi kerelawanan di seluruh daerah Indonesia. Informasi kerelawanan terbaru dapat diakses melalui laman Indorelawan.org karena kita #AlwaysTogether untuk #BetterTogether di tiap situasi saat ini.
Referensi
Aslan, I., & Polat, H. (2024). Investigating social media addiction and impact of social media addiction, loneliness, depression, life satisfaction and problem-solving skills on academic self-efficacy and academic success among university students. Frontiers in Public Health, 12, 1359691. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1359691
Fatmawati, D. N., Tiyas, I. S. N., Ramadhani, B., & Putri, H. D. (2025). The Effect of Social Media on Interpersonal Relationships: Study of Literature. International Conference on Psychology and Education (ICPE), 2(1), 130–134. Retrieved from https://proceeding.unesa.ac.id/index.php/icpe/article/view/5983.
Freemind, S. (2018, Agustus 15). Pria berdiri di depan jendela. Unsplash. https://unsplash.com/id/foto/pria-berdiri-di-depan-jendela-Pv5WeEyxMWU.
F. Pikó, B., Kiss, H., Hartmann, A., Hamvai, C., & M. Fitzpatrick, K. (2024). The Role of Social Comparison and Online Social Support in Social Media Addiction Mediated by Self-Esteem and Loneliness. European Journal of Mental Health, 19, e0019, 1–11. https://doi.org/10.5708/EJMH.19.2024.0019.
Murphy, P. (2025, November 11). Digital 2026: Top digital and social media trends in Indonesia. We Are Social Indonesia. https://wearesocial.com/id/blog/2025/11/digital-2026-top-digital-and-social-media-trends-in-indonesia/.
Pelukan yang Dibutuhkan: Remaja, Kesepian, dan Pilihan Mengakhiri Hidup | Pusiknas Bareskrim Polri. (2025, November 11).
https://pusiknas.polri.go.id/detail_artikel/pelukan_yang_dibutuhkan:_remaja,_kesepian,_dan_pilihan_
mengakhiri_hidup.
Sinaga, T. M. (2025, Agustus 28). Pengguna Medsos di Indonesia Didominasi Gen Z. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/pengguna-medsos-di-indonesia-didominasi-gen-z.
Penulis: Rakha Anaqi Setyawan
Proofreader: Haris Martakusumah