Hi, coba kamu sedang membayangkan dirimu pada satu skenario (buka atau tutup mata pun juga bebas, sesuaikan dengan keadaanmu sekarang ya). Tiap harinya kamu bangun tidur dari kasur, melakukan meditasi singkat, dan menyiapkan agenda yang akan dilakukan pada hari tersebut. Kebiasaan itu terus berulang sehari-hari, alias sama halnya dengan saya, entah hari kerja, entah hari libur.
Sabtu kemarin, saya bangkit dari kamar dan saya takjub dengan pemandangan indah dari jendela kamar. “Tuhan menciptakan seisi dunia ini penuh dengan anugerah, wow,” ungkap saya. Saya pun turun ke bawah untuk sekadar mengecek kedua kucingku, sebut saja mereka Tengkleng dan Cimot. Tak lupa, saya beri mereka satu sendok makanan sehingga mereka tidak mengiau-ngiau kelaparan lagi.
Mungkin, memberikan makanan kepada kucing itu merupakan perbuatan kecil dari lensa orang lain. Namun, bagi saya, hewan merupakan salah satu makhluk hidup yang eksistensinya perlu diperhatikan tiap langkah dan itu anugerah Tuhan. Analogi ini sama dengan ketika kita melihat orang lain yang sebenarnya membutuhkan bantuan, tetapi tersirat. Contohnya, aku duduk di kursi transportasi umum kemudian saya memberikan tempat duduk kepada orang tua yang menggendong anak kecil. Kedengarannya simple, tetapi berarti bukan bagi mereka? Jelas, iya, tentunya.
Bagaimana Altruisme itu Pelekat Empati Orang
Dari sini, kita bisa melihat bahwa perilaku tersebut merupakan bentuk altruisme. Altruisme sendiri merupakan salah satu bentuk kepekaan terhadap orang lain yang berasal dari lubuk hati diri sendiri. Ia tumbuh dari seberapa melekat kepedulian kita terhadap situasi di sekitar kita. Ini dimulai dari “bagaimana saya harus bertindak sehingga eksistensiku tidak terlalu apatis terhadap orang lain.”
Pfattheicher et al. (2021) mencantumkan bahwa altruisme dibagi menjadi tiga dimensi berdasarkan intensi, manfaat, dan konteks sosial pada tiap perilaku manusia. Manusia memiliki emosi dan lubuk hati yang berbeda pada tiap sikap terhadap orang lain. Mereka bisa saja menafsirkannya dengan bentuk yang variatif pula, alias ada yang materiel maupun imateriel.
Jika kita mengambil sudut kesenian, altruisme merupakan takhta tertinggi bagi individu. Mengapa itu bisa terjadi? Sifat altruis menjadi fondasi individu dalam bagaimana ia meng-treat makhluk hidup di sekitarnya dengan penuh bermakna. Makna ini dimulai dari tindakan kecil, seperti sekadar tersenyum sedikit ketika melakukan eye contact dengan orang lain.
Mengapa Kita Spontan Melakukan Apa yang Dilihat
Sejatinya, manusia memiliki 6 emosi dasar dari perspektif psikologi, mulai dari kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, ketakutan, jijik, hingga terkejut. Salah satu jenis yang menarik adalah kebahagiaan. Kebahagiaan dalam konteks altruisme muncul ketika hati tergerak untuk membantu orang lain di tiap kondisi. Kebahagiaan ini berubah menjadi emosi sekunder dalam psikologi, seperti kasih sayang dan kebahagiaan.
Ada salah satu penelitian menarik dari Penagos-Corzo et al. (2022). Penelitian ini mengingatkan bahwa emosi bahagia lahir dari salah satu peran di bagian otak manusia. Kenalin, namanya adalah mirror neurons, sebuah sel saraf otak manusia. Sel ini berfungsi sebagai jembatan saraf dalam memahami situasi dan kondisi, terutama untuk memberikan treatment kepada orang lain secara positif.
Di samping itu, mirror neurons membuat otak kita secara otomatis mengimitasi tiap tindakan, bahkan ekspresi orang lain secara umum. Kita bisa mengambil contoh dari kehidupan kampus. Anggaplah kamu seorang mahasiswa yang menjadi penanggung jawab mata kuliah dari dosenmu. Dosenmu membutuhkan bantuan untuk mengaktifkan proyektor kelas dan kamu sudah mengaktifkannya duluan karena kamu melihat kalau dosen akan memulai pembelajarannya.
Kita tarik lagi ke intinya kalau saraf ini tuh dipicu oleh spontanitas perbuatan kita kepada orang lain. Ia juga tidak lepas dari feedback/penerimaan dari orang lain, bahkan makhluk hidup lain yang menjadi simultan untuk terus menciptakan kebaikan dengan tiap makhluk hidup. Itulah sebab mengapa kita sebagai manusia terkadang spontan ketika melihat apa yang dipandang. Ia tumbuh dari pergerakan, bukan sekadar simpati/mengasihani keadaan.
Helper’s High: Sekali Pemberian Seribu Arti
Artikel yang berjudul Korelasi Media Sosial Dengan Epidemi Kesepian: Relawan Jadi Awal Kebangkitan Nilai Humanis berbicara tentang bagaimana relawan bisa menjadi salah satu penyembuh kesepian. Dari sini, nilai altruis muncul dan memberikan sensasi positif pada tiap individu yang mengalaminya.
Kondisi psikologis ini muncul karena berasal dari kepuasan individu di tiap langkahnya. Langkah yang dimaksud adalah memprioritaskan keperluan orang lain dalam arti tulus bahu membahu. Ketulusan ini didapatkan dari pelepasan hormon-hormon bahagia tubuh, seperti endorfin, dopamin, dan oksitosin oleh otak.
Keadaan ini terjadi dari sejumlah rekonstruksi tindakan sosial yang telah kita lakukan. Kita bisa mengambil contoh dari kisah Tri Puspitasari, seorang relawan registrasi pada acara Pasar Kolaboraya 2025. Ia memahami interaksi manusia sebagai energi positif yang didapatkan dari acara tersebut dan hatinya terisi penuh oleh acara itu. Sama halnya dengan Zepanya karena merasakan peluang terbuka lebih lebar dalam relasi dan tentunya sesama individu yang memiliki kesamaan semangat pada acara tersebut.
Kesimpulan
Setelah kita memahami di balik kemunculan altruisme pada diri kita sendiri, sampailah pada sebuah narasi pengembangan nilai empati. Mengapa dikatakan empati? Nilai itu terbentuk dari kebiasaan kita ketika memandang makhluk hidup lain sebagai makhluk sosial, alias bahu-membahu masih menjadi nomor satu di kehidupan nyata seharinya.
Menariknya, saya juga menyadari selama ini altruisme itu muncul baik secara sadar maupun tidak sadar dari lubuk hati terdalam. Altruis bisa berupa senyuman kepada orang lain atau sekadar sapaan hangat, yang juga lebih dari cukup. Dari sini, saya mengetahui bahwa altruisme didapatkan secara individu ataupun kolektif.
Banyak di luar sana, kerelawanan menjadi salah satu media untuk mengembangkan jiwa altruis kita. Waktu ke waktu pun berjalan sendirinya sehingga jiwa tersebut makin terasah dan kita siap menjadi game changer mulai dari diri sendiri hingga masyarakat massal. Tidak lupa, mencintai diri sendiri itu tidak kalah penting sebab altruisme muncul dari kekuatan empati individu.
Sebagai medianya, Indorelawan hadir sebagai garda informasi kerelawanan di seluruh daerah Indonesia. Di Indorelawan, kamu mempelajari tidak hanya berpartisipasi dalam sebuah acara, tetapi juga membangun fondasi altruis dan penuh empati dengan segmen yang berbeda. Informasi kerelawanan terbaru dapat diakses melalui laman Indorelawan.org karena kita #AlwaysTogether untuk #BetterTogether di tiap langkah sedari dini ini.
Referensi
Caviola, L., Schubert, S., & Greene, J. D. (2021). The Psychology of (In)Effective altruism. Trends in Cognitive Sciences, 25(7), 596–607. https://doi.org/10.1016/j.tics.2021.03.015.
Indorelawan. (2025, Desember 12). Pohon Teduh itu Simbol dari Kolaborasi yang Raya. Blog Indorelawan. https://blog.indorelawan.org/2025/12/12/pohon-teduh-itu-simbol-dari-kolaborasi-yang-raya/
Lopez, T. (2023, November 7). Helper’s High: The science behind the Benefits of Giving back. Learn – GlobalGiving. https://www.globalgiving.org/learn/benefits-of-giving-back/
Pfattheicher, S., Nielsen, Y. A., & Thielmann, I. (2021). Prosocial behavior and altruism: A review of concepts and definitions. Current Opinion in Psychology, 44, 124–129. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.08.021.
Penagos-Corzo, J. C., Van-Hasselt, M. C., Escobar, D., Vázquez-Roque, R. A., & Flores, G. (2022). Mirror neurons and empathy-related regions in psychopathy: Systematic review, meta-analysis, and a working model. Social Neuroscience, 17(5), 462–479. https://doi.org/10.1080/17470919.2022.2128868.
Penulis: Rakha Anaqi Setyawan
Proofreader: Renita Yulistiana