Apa yang dibayangkan dari kata “pendidikan?” Pertanyaan ini sering kali muncul dalam benak saya saat menempuh jenjang pendidikan selama beberapa tahun. Kita pasti memiliki peran orang yang tidak terpisahkan dari diri kita saat kecil. Orang itu adalah keluarga dekat kita, pastinya orang tua.
Dari tahun ke tahun, cara kita belajar pun ikut berkembang, dari mengeja huruf, hingga kini mampu membaca dan menulis gagasan. Sampai saat ini, kita sudah bisa melakukan empat aspek komunikasi dalam bahasa Indonesia, yakni membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara, yang semuanya membentuk sebuah kalimat.
Bagaimana Pendidikan Menjadi Simbol Kokohnya Bangunan?
Ini semua tidak terlepas dari tangan orang tua. Saya sih akan mengaitkannya dengan sebuah bangunan tinggi, misalnya. Bangunan itu memiliki fondasi, seperti bahan bangunan, proporsi, sumber daya manusia, dan aspek perencanaan lainnya. Ia akan berdiri kokoh di suatu tempat apabila perencanaannya telah disusun dengan matang. Sama halnya dengan penelitian Yusuf et al. (2026), peningkatan minat baca sebesar 70% terjadi di PAUD Desa Sukamerta melalui metode intervensi permainan. Ini menunjukkan pentingnya fondasi dalam pendidikan.
Ia bangun dari dasar yang kokoh. Dasar tersebut terletak pada seberapa gigih kita saat kecil dalam mengucapkan huruf dan kata dalam bahasa Indonesia. Prosesnya tidak mudah, tetapi niat kecil ini dapat memberikan hasil nyata di masa depan. Nyatanya, kita mampu menempuh jenjang pendidikan hingga tertinggi, dan itu semua berawal dari sebuah huruf. Huruf itu digabungkan menjadi kata, kemudian sekarang kita bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan menuntaskan jenjang pendidikan secara perlahan-lahan.
Jadi, pendidikan itu sama halnya dengan kokohnya sebuah bangunan. Ia bukan hanya berdiri secara mandiri, melainkan juga memiliki peran yang lebih besar dan kokoh; peran tersebut menghasilkan fondasi yang kuat. Kekuatan inilah yang menjadi superpower dalam menjalani dan menempuh pendidikan selama ini.
Pendidikan sebuah Anugerah Tuhan
Oh Tuhan, saya melihat bahwa pendidikan itu bukan sekadar nama. Ia merupakan sebuah bidang yang membuat saya masih dapat mengetik artikel ini dengan lancar. Pendidikan tumbuh dari peran individu. Ini berarti individu menjadi simbol dalam mengembangkan nilai-nilai pendidikan pada dirinya.
Selain peran orang tua yang sudah saya cantumkan di awal, saya juga memiliki sebuah sifat. Sifat itu adalah proaktif atau willingness to achieve/do something. Ini merupakan tidak hanya sebuah ungkapan, tetapi juga tentang bagaimana pendidikan dibentuk dari dalam diri kita. Pembentukan inilah membuahkan beberapa hasil yang disangkutpautkan dengan penanaman nilai-nilai pendidikan kita.
Contohnya adalah menulis sebuah artikel yang awalnya mustahil. Saya dapat menyelesaikan artikel tersebut karena saya mengenyam pendidikan. Tentu, itu tidak lepas dari bagaimana pendidikan menjadi salah satu anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya, arti pendidikan sebagai sebuah anugerah Tuhan Yang Maha Esa terletak pada seberapa banyak peluang yang dapat kita manfaatkan. Saya turut merasakannya ketika memasuki jenjang pendidikan tinggi. Dari sini, saya melihat bahwa peluang untuk tumbuh dan berkembang ada di berbagai organisasi. Pengalaman ini mencerminkan bagaimana pendidikan bekerja secara optimal ketika individu diberi peluang untuk berselancar, apa pun hasil akhirnya.
Saya juga dapat mengikuti beberapa kompetisi yang dapat menjadi pembelajaran untuk ke depannya. Pembelajaran itu membentuk cara saya melihat bahwa sebuah peluang dapat menjadi titik balik yang reflektif. Dari sini, saya mulai menerapkannya saat duduk di bangku kuliah, dan hal itu menjadi pembelajaran penting dalam hidup saya.
Namun, saya terkadang bertanya pada diri saya tentang anugerah pendidikan itu sendiri yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang terlintas di benak saya. Pertanyaan tersebut adalah “Apakah tiap anak di Indonesia juga memiliki peluang yang sama? Atau justru memiliki hal lain.” Saya akan menjawabnya pada pernyataan di bawah, jadi jangan lupa untuk tetap membaca sampai akhir, ya!
Sudahkah Pendidikan di Indonesia Memberikan Peluang yang Sama?
Oke, kita masuk lagi ke sebuah pernyataan di atas. Pernyataan ini kadang muncul di pikiran saya. Saya akan menjawabnya dengan ‘hampir’ sebagai jawaban atas pernyataan tersebut. Lantas, mengapa saya menggunakan kata ‘hampir’ untuk mendeskripsikan peluang pendidikan yang ada di Indonesia?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indikator pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan tinggi, masih rendah. Angka tersebut adalah Angka Partisipasi Murni (APM) Perguruan Tinggi 19-23 tahun, yang hanya mencapai 23,8% per 15 Desember 2025. Kita dapat menarik kesimpulan bahwa hanya 24 orang dari 100 anak usia 19-23 tahun di Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi.
Iya, ini tidak sekadar fiksi belaka. Ini benar-benar nyata adanya. Coba rasakan dalam hatimu tentang angka itu. Kamu menemukan bahwa sisanya, yakni 76,2%, belum memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi. Ini sungguh ironis karena angka tersebut sangat tinggi. Kesempatan itu perlahan mulai lenyap karena berbagai faktor yang saling berkaitan.
Ini diperparah oleh sebuah studi literatur yang dikumpulkan oleh Wijayanti et al. (2024). Studi tersebut mengungkapkan bahwa kesenjangan pendidikan dari berbagai aspek memang benar adanya. Hal tersebut terjadi mulai dari kesenjangan pengetahuan hingga aksesibilitas terhadap peluang yang masih sangat terbatas.
Edo dan Yasin (2024) menambahkan bahwa dampak kesenjangan tidak dapat dihindari. Dampak ini mencakup dua aspek, yakni aspek internal dan eksternal. Dampak internal terdapat pada kondisi individu yang mengalami banyak tekanan. Hal tersebut disusul oleh dampak eksternal berupa terciptanya kesenjangan besar dalam pendidikan antardaerah di Indonesia. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Pengabaian hanya menciptakan efek domino yang lebih besar. Jadi, langkah untuk menciptakan lembaran pendidikan inklusif ada di tangan kita sendiri.
Pendidikan Dimulai dari Fondasi yang Kita Bangun Bersama
Seperti sebuah bangunan, pendidikan berdiri di atas fondasi yang kuat. Fondasi itu tidak hanya dibentuk oleh individu dan keluarga, tetapi juga oleh sistem dan lingkungan yang mendukung. Namun, kenyataannya, fondasi tersebut belum dimiliki secara merata. Kesenjangan pendidikan di Indonesia masih menjadi pekerjaan bersama, sebuah realita yang mengingatkan bahwa tidak semua anak memulai dari titik yang sama.
Dalam kondisi ini, pendidikan tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak. Negara tetap memegang peran utama dalam memastikan akses yang adil dan merata bagi setiap anak. Namun, di tengah keterbatasan yang masih ada, komunitas dan relawan sering kali hadir sebagai jembatan, membuka ruang belajar, menjangkau yang belum terjangkau, dan menjaga harapan itu tetap hidup.
Upaya-upaya ini bukan untuk menggantikan peran negara, melainkan untuk melengkapi. Inisiatif seperti banyaknya komunitas pendidikan, menunjukkan bagaimana gerakan sederhana dapat memperluas akses belajar bagi anak-anak yang membutuhkan. Dari ruang-ruang kecil inilah, pendidikan tetap berjalan, tidak hanya sebagai proses belajar, tetapi juga sebagai ruang tumbuh dan berkembang.
Karena itu, membangun pendidikan yang lebih adil membutuhkan kerja bersama. Kita bisa memulainya dari langkah sederhana: membangun empati, terlibat dalam komunitas, dan mengambil peran dalam membuka akses belajar bagi yang lain. Pada saat yang sama, dorongan terhadap kebijakan yang lebih inklusif tetap menjadi bagian penting agar perubahan dapat terjadi secara lebih luas dan berkelanjutan.
Melalui Indorelawan, siapa pun bisa mulai mengambil peran, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari solusi. Relawan hadir bukan sekadar untuk mengajar, tetapi untuk menemani proses belajar, membuka akses yang tertutup, dan menjangkau anak-anak yang selama ini luput dari perhatian.
Dari ruang belajar sederhana, pendampingan kecil, hingga keberanian untuk hadir dan peduli, di situlah pendidikan tetap hidup, bahkan di tengah keterbatasan. Sebab pada akhirnya, perubahan dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan bersama—tanpa menggantikan peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2025). Indikator Pendidikan, 1994-2025 – tabel statistik. Badan Pusat Statistik Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTUyNSMx/indikator-pendidikan-1994-2021.html.
Edo, A., & Yasin, M. (2024). Dampak Kesenjangan Akses Pendidikan dan Faktor Ekonomi Keluarga terhadap Mobilitas Sosial. JURNAL ILMU PENDIDIKAN & SOSIAL (SINOVA), 2(3), 317–326. https://doi.org/10.71382/sinova.v2i3.175.
Farmer, K. (2017, Juni 16). fotografi fokus dangkal buku. Unsplash. https://unsplash.com/id/foto/fotografi-fokus-dangkal-buku-lUaaKCUANVI.
Novianti Yusuf, R., Sumarni, S., Saci, S., Lestari, A., & Komala, A. (2026). PENGEMBANGAN KEMAMPUAN LITERASI ANAK USIA DINI BERBASIS PERMAINAN CLAY DAN KARTU HURUF. Publikasi Ilmiah Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (SIKEMAS), 4(4), 36–48. https://doi.org/10.47353/sikemas.v4i4.3216.
Social connect. (n.d.). https://socialconnect.id/community/Rumah-Belajar-Nusantara.
Wijayanti, A., Darmawan, A. W., & Marwan, I. (2024). Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Indonesia: Kesenjangan pendidikan. https://journal.bayfapublisher.com/index.php/cendekia/article/view/79.
Penulis: Rakha Anaqi Setyawan
Proofreader: Nabila Aprisanti & Renita Yulistiana