Dari Gelombang Air, Tumbuh Kepekaan Sendirinya

Dari Gelombang Air, Tumbuh Kepekaan Sendirinya

Bangun Menjadi Bencana Tak Terduga

Bayangkan, kamu baru saja terbangun dari tempat tidur setelah tertidur pulas semalaman. Kamu menoleh ke kanan-kiri, semuanya kosong dan hampa. Di situ, kamu melihat adanya banjir dari kejauhan rumahmu yang perlahan akan mendekati rumahmu.

Perasaan kamu makin tegang karena banjir tersebut perlahan-lahan membawa barang-barang berharga yang berhamburan dari rumah warga sekitar, mulai dari jemuran pakaian, kendaraan pribadi, hingga perabotan rumah. Ketegangan tersebut menambah konflik batin pada dirimu ketika suara bermunculan dari rumah masyarakat setempat dan di luar rumahmu. Suara tersebut meraung-raung dengan erangan pertolongan, seperti “tolong, kami sedang terjebak di dalam rumah. Kami tidak bisa keluar karena gelombang air itu menghalangi jalur evakuasi alternatif kami,” raungnya. 

Di samping itu, orang-orang di luar juga membutuhkan pertolongan karena mulai terseret oleh arus. Tidak cukup sampai situ saja, warga-warga yang tempat tinggalnya terdampak oleh derasnya banjir harus mencari tempat tinggal sementara di beberapa posko kebencanaan dengan terbatasnya persediaan sandang pangan. Tangguh ataupun nyerah menjadi opsi kehidupan apa yang akan mereka alami.

Tangisan Melahirkan Nilai Empati

Di situ, kamu mulai meneteskan air mata akibat komplikasi kejadian tumpahnya gelombang air tinggi dan rasanya campur aduk. Perasaan tersebut memanglah wajar karena tiap manusia memiliki jiwa emosional, terutama melihat orang lain sedang mengalami kejadian tidak mengenakkan.

Hatimu mulai bergerak untuk berpartisipasi dalam inisiasi bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Namun, kamu masih awam dengan langkah-langkah apa saja yang dapat membantu masyarakat agar kondisi tersebut berangsur aman, tanpa adanya rasa ketakutan secara berlebihan.

Di situasi ini, nilai-nilai kerelawanan dengan pendekatan empati diperlukan bagi tiap individu. Empati menjadi salah satu bagian dari tindakan sosial untuk memahami kondisi dan situasi pada bencana tersebut. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dari bagaimana cara kamu menerapkan nilai kerelawanan di tengah bencana banjir, tanpa harus kebingungan mulai dari mana. Namun, empati saja sering kali belum cukup jika tidak diikuti oleh langkah yang jelas. Banyak orang ingin membantu, tetapi ragu harus mulai dari mana dan bagaimana caranya agar tetap tepat sasaran.

Formula S.A.P.D: Cara Asah Nilai Relawan

Terkadang, banyak individu yang bimbang ketika banjir terjadi di sekitar mereka. Mereka bingung langkah apa saja yang harus dilakukan pertama kalinya. Jadi, formula S.A.P.D menjadi salah satu cara agar kamu juga ikut berpartisipasi sebagai relawan bencana banjir tersebut. Simak nilai-nilai di bawah ini sebagai refleksi pada penerapan nilai kerelawanan tersebut:

1. Spread: Sebarluaskan Berita Banjir Terbaru yang Ada di Tiap Situasi dan Kondisi

Beberapa provinsi di Indonesia bulan ini, seperti Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sumatera Utara, mengalami banjir dengan intensitas air yang besar sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap kompleksitas akibat banjir tersebut.

Banjir juga membutuhkan serangkaian informasi, seperti informasi debit air, rendaman jalan, tingkat kerawanan daerah, dan lainnya. Informasi tersebut memiliki nilai urgensi bagi masyarakat yang memiliki keperluan di daerah tersebut, entah sekadar melewati jalan raya, entah berkunjung ke sanak saudara. 

Kamu bisa menyebarluaskan informasi terbaru tentang situasi warga, keamanan daerah banjir, dan cuaca sehingga publik mengetahui tingkat keamanan daerah tersebut.  Informasi tersebut, seiring berjalannya waktu, akan tersebar luas di berbagai kanal dan menjadi berita nasional. Dengan pemerataan sumber informasi, kamu membantu pemerintah setempat, bahkan warga daerah lain untuk ikut memikirkan dan melakukan tindakan pascamitigasi pada bencana daerah tersebut.

2. Advocate: Serukan Opini Banjir dengan Konstruktif dan Lantang

Rasanya berbeda apabila penyebaran informasi dengan tujuan satu arah, yakni meningkatkan viralitas konten, sampai esensi penyebaran informasi tersebut perlahan-lahan hilang. Kehilangan esensi bisa menimbulkan spekulasi publik yang cenderung negatif sehingga hal tersebut harus dihindari.

Memfoto saluran drainase yang tersumbat kemudian melaporkannya ke layanan setempat, seperti JAKI dan layanan hotline serupa pada daerah lain membantu dalam menganalisis akar masalah banjir yang disertai dengan kritik konstruktif. Dokumentasi tersebut juga merupakan jawaban publik terhadap salah satu penyebab banjir dapat terjadi. 

Menyuarakan kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir menjadi salah satu bentuk advokasi kuat terhadap pascabanjir. Pasalnya, pengungsi membutuhkan bantuan sandang dan pangan yang mencukupi sebagai bagian penyambung hidup ke depannya. Tanpa adanya suara tersebut, ledakan masalah lain akan terjadi, seperti penyebaran penyakit menular dan kelaparan massal. 

Bagian terpenting adalah bagaimana kamu selaku individu dapat mengutarakan informasi yang disertai dengan kritik konstruktif terhadap banjir tersebut. Kritik tersebut memperlihatkan berpikir kritis kamu di balik layar bencana banjir tersebut sehingga secara tidak langsung kamu menjadi komunikator andal pada sebab-akibat dari fenomena tersebut. 

3. Pray: Suarakan Dukungan Psikologis Korban Banjir dari Diri Sendiri

Banjir menelan banyak kerugian baik secara material, psikologis, maupun moral. Banjir tersebut menyisakan luka mendalam pada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga akibat komplikasi banjir; kemerosotan finansial keluarga pada ketiadaan material sandang, pangan, dan papan; serta ketiadaan stabilitas dampak mental atau psikologis pascabanjir, yakni Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) hingga 52% pada masyarakat terdampak, berdasarkan studi dari National Library of Medicine 2022.

Dukungan secara nonmaterial dapat membantu masyarakat dalam pemulihan trauma akibat peristiwa banjir tersebut. Dukungan tersebut dapat berupa mendoakan korban banjir serta keluarga yang dirugikan secara bersama dan massal, membuka layanan bimbingan psikologis secara pro bono (terkhusus pada keluarga terdampak skala parah), dan meningkatkan jiwa empati dengan mendengarkan tiap curahan hati hingga mereka telah tenang dan nyaman dengan curahan tersebut.  

Ketiga cara tersebut bisa kamu terapkan mulai dari aware terhadap isu-isu banjir saat ini yang masih memiliki kebutuhan akan dukungan moril ataupun peningkatan jiwa empati dengan memahami keluh kesah orang lain, tanpa langsung menghakimi tiap perkataan dari lontaran hati mereka. Dari proses mendengarkan dan merasakan tersebut, sering kali muncul kesadaran bahwa empati tidak hanya berhenti pada dukungan emosional, tetapi juga mengajak kita untuk hadir dan mengambil peran secara nyata sesuai kemampuan masing-masing.

4. Donate: Hadirkan Dukungan Nyata, dari Barang hingga Kehadiran

Waktu terus berjalan dari menit ke menit dan hari ke hari. Dampak banjir seringkali terasa semakin berat seiring berjalannya waktu. Kebutuhan warga terdampak dapat meningkat, mulai dari kebutuhan dasar hingga dukungan emosional dan proses pemulihan pascabencana. Karena itu, donate tidak hanya dimaknai sebagai pemberian barang atau uang, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi nyata sesuai kapasitas masing-masing.

Kamu bisa memulai dengan menyisihkan kebutuhan pokok yang mendesak di pengungsian atau rumah warga terdampak, seperti bahan pangan, makanan dan minuman layak konsumsi, perlengkapan kebersihan diri, pakaian bersih, maupun bantuan tunai yang fleksibel.

Donate juga dapat berarti donasi tenaga dan kehadiran. Terjun sebagai relawan lapangan, berbagi pengetahuan seperti trauma healing bagi anak-anak dan keluarga, memberikan dukungan psikososial, hingga keterlibatan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari proses pemulihan bersama. Kehadiran yang empatik sering kali sama berharganya dengan bantuan material.

Refleksi

Melakukan keempat aspek tersebut menjadikan aset jiwa kerelawanan pada dirimu ketika dihadapkan pada isu banjir. Formula ini memiliki nilai empati tinggi, khususnya bagi kamu yang sedang mengembangkan jiwa empati yang disambi dengan kegiatan relawan. 

Kamu bisa menjadi relawan banjir dengan memperbarui informasi banjir secara berkala dan memberikan dukungan baik psikologis maupun material kepada masyarakat terdampak. Dari sini, kerelawanan berkaitan tidak hanya dengan kuantitas semata, tetapi juga dengan bagaimana ia mengantarkan nilai kepedulian tiap individu menjadi lebih baik. Kerelawanan lahir sebagai keterikatan masyarakat satu sama lain ketika diulurkan bantuan.

Indorelawan memberikan informasi kerelawanan terbaru pada situs resmi Indorelawan.org untuk melatih keterampilan nilai sosial dengan aktivitas relawan dan membangun individu sebagai inisiator di tiap aksi. Ubah Niat Baik Jadi Aksi Baik Hari Ini. We are always #BetterTogether.

Referensi

Golitaleb, M., Mazaheri, E., Bonyadi, M., & Sahebi, A. (2022). Prevalence of Post-traumatic Stress Disorder After Flood: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers in psychiatry, 13, 890671. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2022.890671

Halida, C. (2021, February 24). 17 Penyebab Banjir Serta Dampaknya Bagi Manusia & Lingkungan. Ruparupa. https://www.ruparupa.com/blog/penyebab-banjir

​Kahfi, M. R. (2022, 26 Oktober). Tata cara lapor genangan atau banjir di Jakarta. Jakarta Smart City. https://smartcity.jakarta.go.id/id/blog/tata-cara-lapor-genangan-atau-banjir-di-jakarta/

Penulis: Rakha Anaqi Setyawan
Proofreader: Haris Martakusumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *